Selasa, November 06, 2007

Kursi di pojok ruang si mbah

Oleh oleh mudik lebaran kali ini saya bawakan cerita dari rumah keluarga mbah Darso Sugito rumah no 04 di RT 15, RW VIII daerah Wedi Klaten,daerah yang cukup parah kena efek gempa Yogya beberapa waktu lalu. Di Rumah kecil ini mata saya mulai jelalatan. Selain mencicipi berbagai macam kue lebaran. Mata saya mulai menyapu, lantai dinding dan setiap jengkal yang bisa saya lihat. Plafon bilik yang terpasang rapi, jendela dengan kaca warna warni pengaruh de stijl. Menarik, lantai semen mengkilat yang kalo kerjaan kantor biasa diberi kode finishing CP, cement polished yang, dipakai juga di rumah ini.



Pintunya tidak kalah menarik membuat adik ipar saya yang bertinggi 186 cm harus sedikit merunduk. Tinggi pintunya tidak lebih dari sekira 175 cm saja, merundukan kepala untuk 11 cm. Skalanya nyaman, humble, dan ramah dengan ruangan yang memanjang tidak terlalu besar. Java scale, Skala Jawa, skala bangunan di jawa memang sangat manusiawi kalau perlu 'kejedot' 'kejedotlah' sedikit berbeda dengan skala bangunan kolonial, atau tipologi bale di kraton yang tinggi menjulang. Skala bangunan privat aristektur kampung kampung di Jawa sangat intim, Skala yang cocok untuk bercanda tawa lepas. Dugaan saya skala yang enak ini timbul karena pola aktifias yang dulunya lebih banyak berada di tanah,dipan, bale, lesehan. Jadi tak perlu langit langit atau pintu yang tinggi kan. Skala untuk sebuah produk desain atau arsitektur jadi penting, tak peduli apapun langgamnya kalau skala dan proporsinya tak terselamatkan, usaha selanjutnya tak berkontribusi banyak lagi. It's all about proportion,...Boss said.



Di pojokan ruangan terdapat tumpukan kursi yang kebetulan belum pernah saya liat, yang ternyata juga saya duduki.Memang sulit ya memperhatikan kursi yang diduduki daripada memperhatikan kursi orang. Seperti juga banyak orang yang mengkritisi orang yang duduk dikursi empuk, tapi kalau sudah duduk di kursi empuk...tidak terlihat ada yang janggal. Kalau anda hidup di desa desa, atau masih punya kakek di desa,atau setidaknya masih punya foto pernikahan Ayah Ibu atau saudara saudaranya. Perhatikan juga kursi yang digunakan disana.mungkin sama dengan kursi ini. Kalau ada yang seperti ini bagi bagi fotonya ya.



Rattan Stackable Chair, Kursi rotan produk lawas dengan desain yang cukup everlasting.Jadi teringat kemarin baru baca tulisannya Zenin Adrian di Jakarta post tentang pameran produk indsutri kreatif yang didisplay dengan cukup menarik didukung oleh ruang yang di desain Andra Matin. Berbagai produk diletakan begitu saja dengan dasar hitam, dinding hitam tanpa repot repot display, dengan tata lampu berbagai produk industri kreatif ini jadi begitu menonjol dan lebih terkesan seperti dalam sebuah pameran instalasi. Wah untuk ini saya boleh menyesal tak berada di Jakarta. Banyak produk bagus karya desainer Indonesia yang justru tidak mendapat apresiasi di dalam negeri. Wah mungkin kesadaran masyarakat Indonesia akan desain masih rendah ya? Atau kesadaran industri juga yang masih terbelakang? idiot? atau industri yang autis, asyik dengan dirinya sendiri. Berbagai produk plastik Lion Star sejak saya kecil hingga sekarang tidak mengalami berbagaiperubaha signifikan. Mungkin sudah cukup puas, atau sudah untung. Begini saja sudah laku kok mas, mungkin begitu kata si engkoh pemilik pabrik plastik ini.

Kembali duduk ke kursi.
Berbeda dengan berbagai kursi tradisional Jawa antik yang sudah populer di berbagai gerai furniture & interior , Kursi Jodang, Bondowoso, Madura, yang desainnya sudah menjadi desain publik (semoga kelak tak dipatenkan Malaysia) dibuat dengan desain kayu jati solid. Kursi lawas ini berbahan dasar besi dan rotan. Warnan besinya ijo ndeso. Bagian pijakan belakangnya dilas dengan sambungan pipa, silender ketemu silinder. Bagian kaki depannya ada bantalan karet dengan sambungan las yang berbeda, sambungan depan ini di pipih salah satu baru dilas. Satu pijakan kaki dengan sambungan pipa. Bergerak ke arah paha, ujung lengkungnya cukup nyaman dan ergonomis, yang menarik di bagian pantat. Dudukan kursi ini dianyam dengan anyaman rotan ckup lebar dengan pola anyaman bilik sederhana. Lendutannya cukup enak saat diduduki. Bagian senderan agak anti klimaks dengan plat besi tipis yang bagian belakangnya bercat kode HR24, HR 25, seperti layaknya kursi sewaan di tempat hajat. Bagian ujung senderan masih satu karakter dengan desain di bagian paha, lengkung lengkung tumpul, yang jadi jargonnya nokia, tiada sudut di badan manusia (mungkin nokia tidak melihat ketek sebagai sudut).

Dejavu, Mengingatkan saya pada berbagai produk furniture modern dengan syntetic rattan, ataupun yang dengan rotan asli. Seperti yang terdisplay di banyak toko toko furniture di daera Kuta, dan tersebar di berbagai tempat nongkrong di Bali. Ini salah satu contoh produknya, yang saya dapat disini. Dengan bantuan mbah gugel “stackable rattan chair”



Kursi ini terpaut jauh umurnya,speerti membandingkan si mbah di pojok rumah mbah darso dan abg ‘chick’ di kafe gaul. Namun si mbah masih bisa bertahan dengan desain yang tak kalah modern, bis ditumpuk (stackable), desain vintage yang ok. Tak jelas siapa desainer kursi di pojokan rumah mbah Darso ini, bertanya karya siapa sama dengan bertanya siapa penemu becak? Hasil revolusi Industri paska art nouveau dalam konteks keindonesiaan, hasil revolusi masuknya las karbit ke pulau Jawa.

Kalau mau dimodifikasi sedikit bisa jadi produk furnitur retro yang unik. Terpikir untuk mendandani si mbah di pojok rumah ini. Dengan material metal cat hitam matt, atau dengan metal brushed finish. Dudukan rotan yang unik juga pada bagian senderan daripada sekedar plat tipis.

Tapi sebaiknya kubuang jauh jauh ide desain retro si mbah ini, nanti malahan seperti mendandani mpok nori dengan bedak tebal. Kursi si mbah di pojok ruangan ini masih terlalu menarik buat didandani ulang. Ijonya, goresan cat yang tak rata, plat tipis senderan, yang justru membuatnya menjadi vintage stackable rattan chair aseli endonesa.









3 komentar:

ikeow mengatakan...

1. ya Allah Kang, kamu tuh kalo ngetik dicek ulang napa? Salah ketiknya banyak bo'.

2. hiks hiks, aku kangen klaten...aku syukaaaa banget kota ini biarpun HOT! Tapi makanannya enak-enak, penduduknya ramah dan sederhana, kotanya cantik dan bersih. Kalo bukan di Bali kita tinggal di Klaten aja gimana?

Raden Kumboro mengatakan...

WOW,..BTW MASIH ADAKAH KURSI BESI SEPERTI ITU BOS?BOLEH DONG DI SAHRE KE KAMI,....HEHEHE

priyatnadp mengatakan...

@Raden Kumboro, di desa desa sepertinya masih banyak. Saya juga ingin bawa :) hehehe