Kamis, Desember 20, 2007

Terimakasih

Sekian lama tidak duduk di angkutan kota.Tinggi kursi yang hanya sekira 30 cm-an cukup pendek, tapi anehnya sangat nyaman mungkin karena sudah lama tidak duduk dengan posisi seperti ini. Setelah hampir 4 tahunan beredar meninggalkan Bandung. Duduk di bangku tambahan lebih asyik lagi, dengan semilir angin dari pintu samping. Pernah suatu kali seorang penumpang yang sepertinya lupa mandi duduk di bangku tambahan ini, akibatnya bisa ditebak, bau badannya bisa saya cium tanpa harus mengendus-endus dari bangku terujung deka kaca belakang.

Angkutan Umum yang hijau, green public transport? Bukan hanya karena tidak ada AC yang mendinginkan ruangan tapi memanaskan bumi, tapi juga warnanya yang memang hijau, dan penumpangnya yang sesak, semakin sesak semakin green. Sementara sebuah jeep cherokee hijau di sebelah bangku tambahan saya hanya berpenumpang satu orang.

Lamunan tentang green public transport, atau apalah namanya dikejutkan dengan teriakan kiri nan cempreng dari seorang anak SMP berseragam putih biru. Lebih terkejut lagi waktu si anak SMP ini bayar ongkos angkutan kota ini sambil bilang, Terimakasih.

Kaget, karena belm pernah sebelumnya saya mendengar anak SMP bilang terimakasih saat turun dari angkutan kota. Seringkali malah melihat debat antara penumpang angkot dan sopir /darimana/kurang 500/leumpang we atuh/deket kok. Dan belum pernah terpikir untuk bilang terimakasih. Sejak melihat anak SMP kemaren itu mau mulai di biasakan ah, Ti Buahbatu, Nuhun Kang...(Kayaknya kalaupun bayarnya kurang hati pa supir ikutan senyum). Kirang kang...(sambil senyum juga).


1 komentar:

gele mengatakan...

tentang trimakasih buat para supir angkot, dulu pernah dikampanyekan oleh satu sekolah (lupa, kalo gak salah mah sma swasta di bdg). Dan yang kerasa makin kesini makin banyak yg ikutan, walo gak seperti deret ukur. I believe a simple thanks would cheer up their day.
tapi sebagai pengendara di kota bandung, emang sering sebel juga ama itu angkot :D