Sabtu, September 15, 2007

Puasa di negeri Orang

Episode pulang cepat

Tiga tahun yang lalu sekitar bulan September 2004 saya diterima bekerja jadi TKI di Bahrain. Sekitar sebulan sebelum bulan ramadhan dimulai. Waktu itu merupakan pengalaman pertama puasa di negeri orang,dan seklaigus pengalaman pertama semuanya harus sendiri. Menyiapkan sahur dan buka sendiri, revolusi besar setelah dua puluh tahunan lebih selalu dibangunkan saat sahur dan tinggal menunggu sebelum buka. Apa saja hal menarik puasa di negeri orang?

Ternyata bayangan saya puasa di negeri gurun timur tengah tidak seburuk yang dibayangkan. Kebetulan bulan Oktober Di Bahrain adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Udara sudah tidak terlalu lembab dan angin mulai dingin, tidak jauh berbeda dengan suhu udara kota di Indonesia.

Yang mengagetkan adalah waktu puasa di Bahrain ternyata untuk yang muslim kita pulang kerja jam tiga sore...Wah senangnya seperti kembali ke jaman SD. Ternyata aturan ini tidak berlaku untuk karyawan lain yang non-Islam mereka bekerja full time sampai jam 5 sore. Dan yang sedikit merepotkan buat mereka yang non-Islam mereka harus membawa ransum makan siang sendiri, saat bulan Ramadhan di Bahrain tidak ada satupun restaurant yang buka, yang berarti tidak ada jatah makan siang juga. Jadi para pekerja dari Filipina, India, UK, dan berbagai negara lainnya membawa lunch boxnya masing-masing dan makan siang di pantry yang pintunya juga ditutup rapat (?) Esmeralda Benito arsitek dari filipina yang bangkunya berhadapan dengan saya tidak membawa gelasnya ke meja kerja. Katanya untuk menghormati yang puasa, saya jadi agak heran it's ok kok, nggak gitu gitu amat kok di Indonesia.

Kalau jam 3 sore kamipun yang muslim yang terdiri dari beberapa Bahraini, India, dan Pakistan, Indonesia (saya sendiri), , berlenggang pulang dengan senyuman melewati para pekerja lain (kalo sempat sambil melempar senyum jahil menggoda, pulang dulu yee..) sementara mereka yang harus tinggal sampai jam 5. Hehehhe, ya gimana lagi aturannya begitu.

Ternyata pulang cepat juga bermasalah. Fasilitas transport yang disediakan kantor tidak tersedia jam segitu. Mau tunggu sampai jam lima atau pulang sendiri. Tentunya pilih pulang sendiri dong. Jarak pusat kota Manama dan daerah Gudaibiya templat flat saya berada tidak terlalu jauh, kalau ditempuh dengan jalan kaki sekitar 45 menit (jauh dong..). Tidak terlalu panas karena cuaca sedang cukup bersahabat. Tapi setidak panasnya cuaca disana terik matahari tetap membakar, walaupun dengan angin yang tidak panas. Terik matahari masih bisa disiasati dengan menembus daerah souk pasar pasar, perkampungan syiah, dan flat flat yang padat yang otomatis menjadi teduh.

Untungnya ada Ali, office boy asal India Selatan, seorang Kerala berkulit hitam legam. RGB 0:0:, ah berlebihan...Yang jelas putih mata dan senyumnya sangat dominan. Kerala/Malayalam. Malaya berarti kelapa, Alam berati land atau tanah. Kata kaya yang cukup familiar ya, mereka bukan saja mengekspor kelapa tapi juga salah satu pengekspor tenaga kerja ke timur tengah terbesar, mereka berkulit hitam legam, dan berbicara sangat cepat seperti kumur kumur, dan kalau berjalan berkelompok suka bergandengan tangan. Bukan karena Gay, tapi karena memang begitulah cara berjalan orang India, Pakistan, Bangladesh, berjalan bersahabat sekali ya, Teringat saat jaman SD, kita bisa berjalan beramai ramai menghabiskan jalan dengan tangan di pundak teman sampai akhirnya dibubarkan oleh gemerincing kaleng dari bawah jok becak..

Orang Kerala ada yang Hindu, Islam, dan Budha. Mereka masing masing bisa dilihat dari namanya.
Ali sedikit heran ketika tahu nama Priyatna yang berbau sanskret berkulit sawo matang, bermata sipit ternyata seorang Muslim. Di India tidak bisa begitu, Kalau nama kamu David, ya pasti kamu penganut Kristen. Ali seperti saya ya islam. Di Indonesia tidak begitu kata saya, Wisnu , Vijay bisa jadi seorang Muslim, dan David Chaniago orang muslim asal Sumatera barat. Ali memanggil saya dengan pangilan Priya.., panggilan yang belum pernah saya dapat sebelumnya. Di India ini nama wanita,...masih inget dengan Priyanka Chopra? artis cantik asal India. Dan priya ini artinya cinta...whuaaa... . Dan Priyatna artinya Gem of love atau pearl of love, waduh namaku kok jadi aduhai gini yah.

Ali tinggal di daerah Juffair bersama teman teman sebangsanya asal Malyalam. Istri dan anak anaknya di India, tdaik dibawa ke Bahrain. Tidak ada tempat buat mereka disini, mereka senang disana. Mata Ali sedikit menerawang mengatakannya. Tidak mudah, tapi tidak ada pilihan. Jadi teringat banyak TKI asal Indonesia yang mungkin tidak seberuntung saya, atau bahkan tidak seberuntung Ali. Walaupun hanya seorang office boy Ali ini pergi ke kantor dengan bermobil. Mobil L 300 yang suka dipakai memandu turis di Bali. Mobil temennya katanya daripada nganggur saya pakai. Mobilnya tidak ber-AC . Waah pertanda buruk...Tapi jangan khawatir katanya, mobil saya jga tidak berkaca jendela juga...what...

Benar saja mobil L 300 yang sepertinya aslinya berwarna putih sudah menuggu. Warnanya lebih seperti warna pasir karena mobil ini tidak pernah dikemocengi atau dicuci. Tidak berjendela karena ternyata semua kacanya sampingnya yang pecah tidak diperbaiki, terbuka melongo. Masih dengan tampang heran saya bertanya, tidak takut dicuri? Kenapa takut katanya, semua orang punya mobil disini, siapa yang mau curi mobil bagus seperti ini? Lagipula mereka idak akan bisa menghidupkan obil ini. Saat masuk mobil, Ali berkata mobil saya ini harus selalu parkir disini. Mangkanya saya selalu datang pagi pagi sebelum tempat parkir ini di ambil orang. Kenapa? Iya saya harus mencari bidang tanah yang miring seperti ini. Pantat mobil Ali sedikit naik ke atas trotoar. Dan mobil ini tidak bisa di starter dengan normal karena accunya soak atau entah tak beraccu. Lalu bagaimana mbil ini bisa jalan? saya masih heran.

Ali pun menarik tuas rem tangannya Mobil meluncur pelan ke depan gigi masuk dan mesin pun hidup. Lalu bagaimana kalau tempat parkir ini sudah di ambil orang pagi pagi? Ya gampang saya tingal cari bidang miring lainnya? Hmmm...I see...Trus bagaimana kamu pergi pagi? Ya gampang..mobil saya juga dirumah diparkir di tanah yang miring juga.

Walaupun panas terik, tidak terasapanas karena mobil tak berjendela ini masih bisa melaju cukup kencang dan angin segar masih bisa masuk dari semua jendela (Kecuali jendela depan dan belakang yang masih berkaca). Berapa harga mobil seperti ini di sini? Cukup murah katanya, dibawah 300 Bahrain Dinar yang berarti dibawah 7 jutaan. Kamu mau beli? Hehehe..no thanks..aku numpang aja deh. tak berapa lama L.300 ajaib ini pun sudah sampai di daerah Gudaibiya. Sukriya Ali!No it's Hindi, kata Ali. Nandi !!!katanya lagi (yang artinya terimakasih dalam bahasa Malayalam dilafalkan sedikit sulit bagin en-de dibunyikan seperti menggigit ujung lidah, sedikit ke Srilanka sudah berebeda lagi menjadi Nandri), Nandi Ali! Assalamualaikum...






2 komentar:

lei mengatakan...

pak..ngerjain pe-er mau yaah!!
sambil ngabuburit :D

dsini

Anonim mengatakan...

Salam kenal mas priyatna,saya Mulia,rencananya,kalo jadi saya mau ke bahrain juga kerja disana,dimana2nya belom tau masih nunggu visa.Boleh ga nanya2 tentang kondisi disana?
Thanks yaaa....
aanya_dian@yahoo.com
Mulia