Rabu, September 27, 2006

Antagonisme Sinetron Ramadhan

Dulu hobi banget mengikuti bareng keluarga, sampai kalau satu episode lupa, nggak lupa nanya gimana ceritanya. Sudah 4-5 tahun terakhir ini saya melewatkan sinetron Ramadhan.Alasan pertama, karena kesibukan belum pulang dari tempat kerja,alasan lainnya kok ceritanya berulang ya, sama hanya judulnya tokohnya yang berganti, + jangan lupa theme song yang religius. Kalau bahasa polisi sih modus operandinya sama.Kalau dilihat juga nyaris tidak ada bedanya dengan sinetron yang ditayangkan bukan pada bulan Ramadhan. Hikmah 1, Hikmah2, Hikmah 3, Hikmah bekelanjutan....



Saya juga masih bingung membedakan sinetron di hari hari biasa dan sinetron ramadhan, selain ada penambahan Kata kata bijak,ucapan salam, adegan sholat, adegan berdoa tokoh utama. Maaf kalau melihatnya terlalu skeptis, ini opini pribadi.
Peran antagonis di sinetron seringkali menjadi daya tarik tersendiri buat penonton, sukses besar yang bisa membuat penonton geram. Ekspresinya ruarr biasa, mata melotot, pundak turun naik. Atau adegan menggumam sambil tersenyum merencanakan kebusukan (dengan mulut sama sekali tidak berkomat kamit).Peran utama biasanya diposisikan menajdi tokoh teraniaya, dizhalimi, tak berdaya. Coba lihat porsi antagonis dan tokoh utamanya, di masyarakat kita yang belum cerdas, saya jadi ragu apa tontonan ini bisa jadi contoh. Mengingat porsi antagonis yang sama atau lebih, (dengan asumsi) masyarakat yang belum cerdas, sinetron Ramadhan menjadi sarana yang tepat untuk syiar antagonis, menyebarkan kebusukan. Opini yang berlebihan? Itu kan tergantung orangnya mas...orang kan bisa membedakan mana yang baik dan buruknya,...

Jawaban sederhana bisa diperoleh dari iklan rokok. Iklan rokok saja bisa dibuat tanpa harus mempertontonkan adegan merokok. Tontonan religius ironisnya justru banyak mempertontonkan adegan kekerasan, (mental ataupun fisik) + sedikit saja bumbu label ramadhan yang saya lihat lebih kepada setting (setting tempat, waktu).

Memang kadangkala sinetron diberi label BO, bimbingan orangtua.
Nah pertanyaan selanjutnya, apakah yakin orangtua dirumah masing-masing sudah cukup bijaksana? Lebih Bijaksana bila tidak menonton.

ini hanya opini, kemuakan, dari penonton yan merindukan tayangn empuk dan sehat sepulang kerja yang suntuk.

3 komentar:

Zara Zettira ZR mengatakan...

Salam kenal
tertarik dengan tulisan mengenai sinetron HIKMAH sebab kebetulan saya penulis skenarionya. Review anda memang benar. Sebagai penulis sayapun merasakan preassure dari pihak lain yang bersangkutan (produser dan stasiun Tv serta hasil survey/rating) Kedengarannya klise , tapi ini bukan excuse. Kenyataannya dunia seni (sinteron) termasuk dalam kategori komoditi dagang (bisnis) yang sulit menjadi independen (murni)
Salam hangat, mudah mudahan suatu hari bisa jumpa di Bali.

priyatnadp mengatakan...

aduh, sekalinya dikomentarin sama penulisnya, jadi malu. Hikmah buat saya hanya sampel mbak, yang lainnya ngga jauh beda,(ups..) kok semuanya masuk jebakan yang sama yah. Pasar yang tersegmentasi walaupun rating ngga tinggi, kalau pemasang iklan jeli ngelihatnya sebenernya sangat prospektif, andai saja para produser sadar...bisa bikin yang cerdas & independen, sepertinya gaya begini mulai muncul di anteve dengan i-sinema nya. Salam salut terus berkarya....cerpen sepertinya jauh lebih independen yah..

Anonim mengatakan...

Hai salam kenal numpang baca dikit aja boleh kan...makasih sebelumnya deh. Fira@kastindo.com