Senin, Maret 17, 2008

Leader & Reader




Judulnya ditulis dengan bahasa inggris tapi isi tulisan ini tidak, kena sindrom campursari cincha lowra? Nggak sih sekedar maksain aja biar frasenya unik, left right,leader reader. Untuk sementara saya cerita reader dulu ya. Doyan baca buku? termasuk reader? Apa berarti kalau kita suka baca buku berarti jadi reader yang baik juga. Selain buku banyak sekali hal hal tidak eksplisit yang bisa kita baca di lingkungan sekitar kita. Jadi kalau ditarik benang lebih luas lagi yang mau saya bahas disini bukan reader si pembaca buku tapi lebih kepada reader yang sifatnya attitude, mungkin lebih tepat kalau disebut listening skill.

Beberapa orang yang saya temui entah sengaja atu tidak puya sifat reader yang begitu menonjol. Orang orang seperti ini akan sangat nyaman dijadikan teman bicara. Sayangnya ini bukan sifat bawaan saya, jadi masih ingin belajar jadi reader yang baik. Masih sering banget diprotes istri karena suka motong cerita, masih sering banget diprotes isti karena dengerin ceritanya sambil ngerjain sesuatu yang lain tanpa eye contact, padahal aku kan multitasking person..lah Gus Dur aja bisa ngobrol sambil tidur (bukan tiduran ya). Masih sering banget istriku cerita sesuatu yang (dianggapnya) menarik, terus aku kasih komentar berita yang (dianggapku)menarik di tv (halah ngga nyambung kan). Ya itu cuman beberapa pengakuan, bahwa untuk menjadi good reader tidaklah gampang.

Sabtu kemaren di sebuah toko perkakas di Kuta, ketemu seorang teman yang berbisnis di bidang web design. Ada yang unik dari teman saya ini, kesan yang menonjol adalah dia reader yang baik. Tidak memotong kalimat, selalu ada eye contact, dan respon positif dari apa yang kita ceritakan. Obrolan pun jadi enak, apalagi bawaan saya yang teller, bacoter (baca tukang bacot), tukang cerita agak susah stop cerita ketemu orang tipe macam ini. Mungkin disini background profesi berpengruh juga sebagai web designer yang biasa bertemu berbagai macam karakter orang, arogansi, perilaku, keiginan yang berbeda memang perlu listening skill yang mumpuni si klien maunya apa.

Reader yang baik selain pengumpan bola yang baik bisa mengembalikan bola dengan baik juga, ya mau ngga mau musti tahu banyak hal. Membaca? cari banyak informasi? Tidak selalu..kita juga bisa juga jadi reader dadakan, kadang kita ketemu orang yang bidangnya sama sekali 'gelap' buat kita. Justru kegelapan ini juga yang bisa jadi bahan pembicaraan menarik. Dan reader yang baik tidak perlu malu untuk menunjukan ketidak tahuannya. Reader yang hebat juga tidak mengeluarkan semua amunisinya sekaligus, tidak semua yang kita tahu perlu dikeluarkan dan dikatakan. Orang akan lebih menaruh hormat pada orang yang mengatakan yang dia tahu, tapi tidak menambah nambah yang tidak dia tahu (mati gaya ntar) bertanya tidak akan menjadikan seseorang lebih hina, menceritakan semua yang kita tahu sebaliknya hana menunjukan batas dari pengetahuan yang kita tahu, waduh jadi jebakan batman yang namanya kesombongan kalau begini.

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk menjadi reader yang baik buat orang yang kita hormati, orang yang kita butuhkan informasinya. Walaupun tidak selalu sukses, tidak selalu perintah boss, atau maunya klien tertangkap dengan baik oleh kita. Yang paling puas adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik karena data kita sebagai reader cukup mumpuni.

Apakah setiap leader adalah reader yang baik? Nah ini juga special skill yang levelnya lebih tinggi lagi. Mungkin tidak susah bagi anak kecil untuk mendengar nasihat orang tuanya. Tidak susah juga buat seorang bawahan mendengar perintah bosnya. Tidak susah buat seorang web design mendengar apa mau si klien. Yang lebih susah ketika kita mau mendengar orang yang kita anggap lebih rendah, atau malah nggak penting. Mendengar disini bukan berarti menuruti loh, denger aja dulu. Perkara itu dituruti atau dibantah, itu di bab lain.

Reader yang hebat akan tetap tersenyum ketika ide lawan bicaranya dianggapnya aneh, perlu dicounter dan tetap tidak terbawa emosi gaya permainan lawan bicara. Teringat kisah saat Rasulullah mau mendengarkan masukan dari bawahanya tentang strategi perang dari bawahannya, Beliau bukan saja reader yang baik, Tapi juga Leader yang baik. Seorang pengemis Yahudi tua yang tak lagi bergigi merasa kehilangan manaakala suatu hari orang yang selalu mengunyahkan makanan untuknya tidak lagi datang pagi itu, mana mungkin orang yang selalu mengunyahkan makanan untukku itu Muhammad yang baru saja meninggal. Saya selalu menceritakan keburukan Muhammad padanya (Muhammad) dan dia hanya tertawa tawa kecil.

Susah juga ya jadi reader, apalagi leader, apalagi leader yang reader. Jembatan keledai, cara yang mudah yang lagi saya coba dengan sesedikit mungkin berkata tapi kan...atau sebaliknya tuh kan...Tetep senyum dengerin dulu, setuju atau tidak setuju bisa dibahas kemudian. Kematangan kita atau lawan bicara bisa dilihat dari sikap kecil ini.

Terimkasih Ika koreksinya, semoga kubisa jadi reader yang lebih baik.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

susah banget untuk bisa jadi reader yang baik..

-imgar-

ikeow mengatakan...

asiiiik berarti kalau nanti aku lagi cerita trus ga ngedengerin wajib nraktir makan-makan!

prabhamwulung mengatakan...

ada yang mau beli card reader ku ga? buatan cina, agak lamban... 30 ribu deh...

anto mengatakan...

Tulisan yang menarik, dan diam-diam sambil mbaca hatiku ikut 'tersindir'...hmmm.... ternyata aku bukan good reader, terlalu banyak nyela kalo' orang ngomong, terlebih kalo' isi omongannya aku anggap nggak valid.