Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 08, 2009

Superdad

Lama absen posting di halaman ini melewati berbagai peristiwa penting dunia yang membuat geram, kecut. Halaman berumput yang tak terurus sejak ramadhan kemarin. Banyak sebab sejak koneksi im2 unlimited yang ternyata sangat limited walaupun kondisi sinyal bagus, pelanggan baru yang terus ditambah tanpa ada perbaikan sistem bisa saya tuduhkan sebagai kejahatan buat konsumen. Sekarang sudah pindah ke telkom speedy yang so far baik baik saja, semoga makin turun terus tarifnya. Semoga para pemimpin negeri ini sadar kalo internet murah bisa jadi generator ekonomi.

Cerita gowes
Sedikit cerita tentang gowes mingguan yang diprakarsai dan diprovokasi om om dari Lelasan Berseri dengan rute denpasar ubud setiap sabtu total PP menempuh jarak sekira 46km, atau dengan rute tambahan single track Abangan-Sari Organik Ubud XC optional sekira 56 kman PP. Ada yang istimewa dari gowes kemarin, ada peserta termuda, baru berusia 5.5 tahun Yotta namanya atau biasa dipagil Kaka. Kalau biasanya yang bawa anak itu Om Rusli (yang ini anak-anakynya udah gede gede ), atau om Nengah Wirayasa yang bersepeda sampai Negara tetangga (maksudany Negara Bali Barat), kali ini om Ketut Parikesit bawa gandengannya dengan bawa kopilot Kaka.

Cukup berani mengingat rute yang luamayan untuk anak seumuran kaka & 'traffic' pagi denpasar lumayan 'riweuh' dengan pengendara sepeda motor yang 'lincah' salip kiri kanan.Tapi dalam rombongan harusnya lebih aman. Ini juga perjalanan pertama buat Kaka ikut tour cukup jauh naik sepeda barunya. Sejak masih proses las-lasan sepeda gandeng kanibal ini sudah diposting di milis greenwarrior, jadi penasaran untuk segera liat jadinya dengan kopilotnya yang ternyata belum bisa naik sepeda roda dua.

Daripada nangkring nggak dipake dengan roda empatnya ya sudah mending dipotong aja kata Om Ketut Parikesit. Hasilnya...Yotta senang naik sepeda bareng 'superdad'...Bosen? sepertinya tidak terlihatt muka bosen dari Kaka walaupun berkali kali tanya "Yah apa masih jauh?" Sepanjang perjalanan menikmati kombinasi jalan raya, jalan sempit perkampungan dan persawahan terdengar celoteh kaka dari jok belakang.
From denpasar ubud

Dual pivot.
Penasaran lebih deket lagi dengan sepeda racikan om Parikesit ini. sepeda ini berpivot 2 ngik-nguk keatas kebawah macam pompa dragon, dan ngik-nguk ke samping kaya setang sepeda. Setang sepeda Kaka sendiri dilas fix sperti sepeda tandem pada umumnya. Dengan dual pivot ini sepeda bisa tetap bermanuver lebih lincah dari sepeda tandem saat belok, juga saat melibas gundukan seperti DSDP (apa sih kepanjangannya ini.?...). Kalo diperhatikan kualitas sa
mbungan las juga cukup membuat tenang yang melihat, sambungannya cukup rapi dan kuat.


From denpasar ubud

Yang agak sedikit repot kalo dilihat dari belakang, kadang posisi badan kopilot yang belum biasa naik sepeda roda dua menambah tenaga ekstra buat 'Superdad' untuk menyeimbangkan sepeda. Juga saat gowes ditanjakan nambah beban ekstra, tentu tidak masalah buat superdad. Jalan rata & turunan..? kelihatannya sih menambah daya dorong yang lumayan dari berat yotta dan sepedanya. Kakak juga ikut kayuh sepeda loh, kontribusi kayuhannya silakan ditanyakan pada pilotnya hihihi. Walaupun kontribusi kayuhannya dipertanyakan Superdad ini melibas berbagai tanjakan dan turunan ke Ubud dengan cukup sukses, hanya sekali TTB di tanjakan yang memang sangat curam di daerah Singakerta Ubud.
From denpasar ubud


From denpasar ubud



From denpasar ubud

From denpasar ubud

From denpasar ubud

From denpasar ubud

From denpasar ubud


Sepanjang perjalanan om Parikesit dan Yotta banyak memancing perhatian, ada yang cenik...kata anak anaka SD. modalnya 500 ribu dilluar sepeda anaknya. Tentunya diluar polygon xtrada sirvelr-merah bergGPS ini. Buat yang suka dikomplain anak istri gara gara kabur seharian bersepeda sepertinya bukan alasan lagi. dibawa aja sekalian. Mungkin kalau yotta udah agak besar sedikit om Parikesit bakal bikin trailer bike fulsuss buat DH juga yang ditempel di bansheenya.

Salut buat Superdad, pasti jadi momen berharga buat Kaka nanti.


Rabu, November 14, 2007

Tell Beydar kota tujuh gerbang

Tulisan yang tertunda karena kesibukan setelah beberapa lama ngendon di draft . Setiap kali datang ke soupchat, hampir selalu ada kejutan kecil yang tak terduga. Seperti Sabtu sore itu di Asin Bungalow milik etha di daerah Nyuh Kuning Ubud sambil menyeruput sup labu dan sup makaroni yang daripada bingung memilihnya diseruput saja keduanya.

Soupchat 10 di bulan Agustus 2007 ini diramaikan oleh suara berwarnanya Kacir...pemuda Papua bertampang mirip Judika bersuara Tompi. Presentasi Pak Marcl L dari European Centre for Upper Mesopotamian Studies dengan Tell Beydar dan Bobby presentasi thin clientnya..

Kali ini akan saya ceritakan kembali soal Kota tujuh gerbang presentasinya pak Marc. Seperti cerita epic, atau seperti permainan game komputer age of empire, age of mithology yang sudah lama tak saya mainkan lagi. Pa Marc menceritakan pengalamannya sebagai arkeolog dalam penggalian kota tua di Syria utara (North Messopotamia) tepatnya Tell Beydar.

Presentasi yang awalnya terlihat membosankan ini ternyata semakin disimak semakin menarik. Kondisi kota ini sebelum penggalian hanya berupa gundukan bukit tak bertuan. Seperti bertemu tokoh di film-film tentang Mesir Kuno. Pak Marc yang humble mengawali pembicaraannya dengan saya bicara atas nama tim,(waah beda banget ya dengan yang mengaku pakar IT itu, saya yang menemukan lagu indonesia raya versi aseli). Dan katanya ini merupakan kali pertama beliau mempresentasikan karyanya di luar Eropa dan Midle East. Wow...Terimakasih Pak Marc

Baru tahu pekerjaan arkeolog yang sebenarnya, wow...film film Holywood yang selama ini kita tonton yang banyak mengidentikan arkeolog melulu dengan dinasaurus ternyata lumayan (teramat) menyesatkan. Dalam kenyataannya sangat multidisiplin, belajar sejarah, sosial, antropologi, yang bisa membawa kita ke Jaman dimana kota ini tinggal. Pejamkan mata, dan rasakan aroma dinding lumpur dari jaman 300o tahun sebelum jempol kaki kita menyentuh tanah.

Apa yang ajaib dengan Tell Beydar? Banyak. Kota ini dibangun pada masa yang sering disebut First Imperium. Saat dimana kerajaan besar muncul multi ras multi etnik, atau biasa disebut juga Early Bronze Age. Terletak di wilayah mesopotamia Utara, yang disebut segitiga Khabur. Berbeda dengan daerah selatan yang terbentuk dari tanah alluvium. Curah hujan cukup dan sudah mengenal irigasi. Oleh pa Marc kita dibawa ke jaman seratus tahun sebelum raja Sargon dari Akkad menginvasi daerah ini (sekira 2350 tahun sebelum masei, waah perjalanan yang jauh ya). Kalau ditarik garis ke mesir saat itu di Gizeh orang sedang sibuk sibuknya membangun pyramid (2570 sebelum masehi) . Walapun saat itu kontak antara dua pusat kebidayaan tertua di dunia ini sangat sedikit.

Kota ini dilindungi dengan dua lapis benteng batu tebal dan tinggi dan memiliki tujuh Gerbang. Dilamnya terdapat tidak kurang dari 3000 orang dengan berbagai pembagian kerja. Waaah langsung deh, imajinasi liar saya membayangkan setting tempat tell beydar saat jaya jayanya ada pasukan tentara, petani, dengan baju bajunya yang unik, kerumunan dengan bahasa yang tak familiar ditelinga.

Benteng seperti alasan kebanyakan untuk melindungi warga kota dari berbagai gempuran. Yang mengharukan sudah ditemukan kloset duduk, dan sistem sanitasi yang baik. Sejarah per-wc an ternyata sudah ditemukan 3000 tahun lalu disana. Mungkin karena disana tak ada empang atau semak semak rimbun seperti di Indonesia. Tak heran tak ditemukan peninggalan purbakala per-wc an di Indonesia (tolong betulkan kalau saya salah)


foto udara A. Poidebard, beydar.com

Yang membuat lebih takjub lagi dari gundukan tanah tak bermakna ini mereka akan merekonstruksi Tell Beydar seperti masa lalu. Session tanya jawab pun disemarakan dengan berbagai pertanyaan.

Ini sebuah kerja besar, Tim arkeolgi ini terdiri dari berapa orang?
Benar pekerjaan penggalian ini sudah berlangsung bertahun tahun, dan masih akan terus sibuk. Gundukan di Syiria bukan hanya di Tell Beydar. Dan dari setiap gundukan saja hampir bisa dipastikan pernah jadi tempat kediaman sebuah peradaban, dan setiap layer penggalian erdapatberbagai jaman yang berbeda (whuaa...asyik juga ya jadi arkeolog ) .Tim kami terdiri dari sekira 30 orang dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai negara yang berbeda termasuk Syiria tentunya, negara di Timur tengah dan Eropa. Kami sendiri dari Belgia, dibantu banyak mahasiswa dan para pakar dari bidangnya masing masing ada sosial, budaya, arsitektur, antropologi. Tidak semua harus ada disana setiap saat tentunya, ada orang indonesia juga loh (wah mau dong ikuut jalan jalannya)

Kenapa sebuah peradaban bisa hilang dan terkubur seperti Tell Beydar, kita tahu mesopotamia dulu pusat kebudayaan tertua dengan berbagai peninggalannya, tapi kalau dilihat di Iak sekarang kondisinya sangat terpuruk? apakah ada saat yang hilang diantaranya?
Bisa terjadi karena banyak hal, bisa bencana alam, perang. Sejarah itu terjadi dalam proses yang selalu naik turun ada saat jaya, turun, selalu begitu di berbagai peradaban dunia. Apalagi saat jaman seperti Tell Beydar ini mereka punya musuh dari berbagai arah yang berbeda.

Bagaimana cara mereka membuat dak datar dulu?
Mereka menggunakan batang kayu, daun palem atau jerami, lalu menuang larutan lumpur diatasnya, seperti kita membuat dak beton. Walaupun ada hujan tidak sebanyak di Bali tentunya.

Kenapa mereka membangun rumahnya dengan menggunakan mudbrick (dari lumpur basah) bukan dengan bake brick (bata bakar)?
Kalau kita lihat dari lokasinya. Syria utara, bukan daerah yang ditumbuhi banyak pohon. Untuk membuat bake brick, selain butuh bahan bata juga dibutuhkan kayu untuk bahan bakar. Penggunaan bata bakar adalah sesuatu yang mewah, dan hanya ditemukan di bagian bagian yang penting saja.

Dalam konstruksi modern terutama untuk bangunan bersuhu ekstrem, 4 musim, aplagi bangunan di timur tengah biasanya terdapat insulasi yang berupa celah/ cavity atau material tertentu. Apakah ditemukan juga teknologi seperti ini?
Ini pertanyaan yang menarik. Kalau kita rasakan dan datang ke sana duduk di sebuah ruangan hasil rekonstruksi sebenarnya sungguh nyaman walaupun keadaan di luar sangat panas. Ini karena pemilihan material mereka mudbrick sebagi insulator panas yang baik, dengan ketebalan tertentu (yang cukup tebal) dan pengaturan penghawaan alami yang baik. Wah mereka sudah mengenal arsitektur hijau, low cost energy saving.

Bagaimana dengan proses rekonstruksinya? Apakah menggunakan metoda yang sama dengan metoda mereka membangun dulu?
Ini pertanyaan yang panjang, saya aan jawab dalam pertemuan selajutnya...(aduh..bersambung ternyata).

Kalau masih penasaran bisa diliat di beydar.com dengan tiga bahasa, Inggris, Perancis, dan Arab, pertanyaan terakhir yang belum terjawab bisa ditemukan juga jawabannya disana. Ada animasi, sejarah, proses restorasinya. Belajar sejarah ternyata bisa sangat menarik dan kait berkait, betapa kecilnya kita, betapa kecilnya sbuah peradaban yang bisahilang begitu saja ditelan bumi. Kenapa Bu Ating guru sejarah SMA membawakannya dengan amat membosankan, diramaikan dengan acara mencatat masal dan sama sekali tidak menarik. Ah mungkin bukan Bu Ating yang salah, mungkin gurunya bu Ating dulu yang salah. Atau memang aku dulu yang salah, yang lebih tertarik film animasi di tv dan main game.




Senin, Oktober 08, 2007

Cari oleh oleh mudik

Minggu lalu diberitahu seoran teman tentang pusat kerajinan bali di daerah kerobokan. Genevahandicraft. Ruko 3 Lantai yang isinya berbagai macam kerajinan yang buka dari jam sembilan pagi sampai sembilan malam. Konon katanya seluruh kerajinan yang ada di bali bisa ditemukan disini, ah masa sih? Karena penasaran akhirnya kita mendatanginya sekalian buat beli oleh oleh ke Bandung.

Tempatnya ternyata cukup nyempil...hanya bisa tahu kalau kita meamang sudah tahu dimana tempatnya. Tapi palngnya cukup besar, toko ini bertengger di lantai dua, sementara di bawahnya menjual furniture. Jadi kita meniti tangga yang menjulur di sisi kanan samping parkiran untuk sampai keatas. Lantai 2,3,4 sampai ke roof deck ternyata isinya banyak banget. Nah ini sedikit laporannya, apa yang bagus apa yang jelek kita kupas sama sama.

Yang bagus.

Praktis
Kalau memang tidak punya cukup banyak waktu saat berkunjung ke Bali dan untuk cari oleh-oleh disini memang tempat yang tepat. Apalagi kalau cari oleh oleh buat dibagiin tetangga se RT.

Nggak perlu nawar
Tidak perlu tarik otot tawar menawar, atau pura pura pergi seperti di pasar Sukawati (sambil berharap dipanggil lagi)
Konon harga lebih murah dari pasar Ubud tapi sedikit lebih mahal dari pasar Sukawati. Tapi kalau anda berpikir tawar menawar adalah bagian menarik dari jual beli, atau anda berwawasan ekonomi mikro kerakyatan yang berpikir bahwa sirkulasi uang itu harus menyebar diseluruh lapisan masyarakat dan tidak menumpu di sebagian pemilikmodal saja (dibaca dengan gaya orasi dengan semangat tentunya). Atau anda termasuk orang yang menikmati proses, masuk masuk pasar, atau melihat perajinnya langsung membuatnya. Akan kehilangan banyak hal menarik disini, tapi bagus juga buat tahu standar harga.

Variatif
Banyak banget pernak pernik buat ngisi rumah disini, berbagai macam tempelan kulkas, lampu lampu. aneka ragam ejnis dan tipenya. Namun, agak susah untuk cari sesuatu yang unik dan baru disini. Di Ubud, tegalalang kadang kita bisa menemukan order desainer kreatif yang belum pernah dilihat di katalog manapun, dan dibuat lebih dan dijual pula. Disini yang kita temuan bisa kita temukan juga di lima tempat lainnya,seperti berbagai macam tipe kerajinan bali yang gemar saling mencontek katalog, bedanya disini dalam satu atap. Kesalahan fatal yang selalu berlangsung di industri kecil rumahan, ketika seorang atau sekelompok perajin sukses memproduksi sebuah barang maka berbondong bondong akan ditiru oleh berbagai perajin lainnya,yang akhirnya berujung pada produk yang tidak unik dan sama.

Yang kurang bagusnya.

Tidak semua ada disini.
Premis pertama terbantahkan. Tidak semua kerajinan yang ada dibali ada disini, Puzzle Kayu yang biasanya saya borong ternyata tidak ada disini. Topi batik postman harajuku yang suka dipake abg Jepun diubud tidak ada disini. Berbagai tas lucu dengan motif awan cirebonan yang dijual di butik kecil di ubud ngga dijual disini. Dan sudah pasti kalau anda cari batik bekualitas ngga ada disini . Kalau menyusuri toko toko kecil di sekitar ubud, anda akan menemukan barang yang tidak dijual di pasar dengan harga sedikit lebih mahal namun dengan quality control yang lebih baik.

Tidak terdisplay dengan baik.
Karena pendekatannya grosir, wholesale jangan harap isinya seperti di kerajinan tangan di Sarinah atau Centro di Kuta Galeria yang terdisplay dengan baik dengan lampu sorot. Jika di Centro Kuta Galeria kita bisa melihat kerajinan khas bali yang bagus karena didisplay dengan bagus juga. Disini setingannya musti agak terbalik. Mungkin ini bisa bagus, kalau tidak berdebu. Beberapa barang dengan tipe yang sama tersedia dengan jumlah yang banyak, mungkin karena toko ini memang sekaligus gudang. Nah pendekatan yang sama msti dipakai juga saat memilih barang di tempat grosiran seperti ini. Crop...bayangkan benda yang bertumpuk tadi ada di sebuah pojok di rumah anda, mm....sepertinya ini bisa bagus di.... Kalau pinter milihnya banyak loh barang yang layak dibawa pulang.

Terimakasih atas kejujuran anda?
Terimakasih atas kejuruan anda? tertera di salah satu rak ...ya saya tidak salah baca, bukan terimakasih atas kunjungan anda loh...Lo kira gw ini mo ngutil apa...? Dan sayapun lebih nyaman belanja tanpa perlu dikuntit, terimaksih.

Tulisan yang tidak perlu
Karyawan dalam sebulan tidak masuk tiga kali dianggap mengundurkan diri. Sama sekali tidak perlu ada di area toko, ini masalah internal yang samasekali tidak perlu dishare ke publik, terkesan merendahkan karyawan dimata customer.

Not to buy...
Sangat tidak disarankan untuk membeli lukisan disini, walaupun harganya sangat murah (banget) hanya 35 ribu rupiah untuk lukisan kanvas sekira 40x60cm.Ini tipe lukisan masal yang kurang berseni. Berburu lukisan di ubud atau sukawati anda masih bisa dapet kualitas yang jauh lebih baik tidak pasaran.

Berbagai keranjang anyaman, sedikit lebih mahal jika anda tahu dimana sentra produksinya
Sarung bantal, Selain pilihannya terbatas, kain yang dipakai bukan katun. Berbagai sarung bantal produksi Jogja, dengan berbagai motifnya nggak dijual disini. Padahal di tegalalang, kerobokan, ubud banyak mas mas jawa dengan batiknya yang lucu lucu.

Kaos FO, loh..kan tadi mau cari handicraft, beli kaos mah di Bandung aja pusatnya FO.

Tidak disarankan untuk membeli barang antik disini, Jika anda pemburu barang antik lebih asyik buat berburu di lokasi aslinya. Drum dogson, kalo di museum gajah disebut nekara mempunyai permukaan genderang yang cukup tipis dan rapuh, disini terlalu tebal dan bekas tempaan terlalu mulus (tapi masih dijual mahal).Beberapa patung lorobloyo (penganten jawa) disini bukan barang antik tapi difinish antik, bisa dilihat dari berat kayu yang digunakan (terlalu ringan) dan harganya yang terlalu murah. Beberapa barang antik, dibandrol jutaan, bisa jadi karena memang itu asli atau siapa tahu ada yang beli, dan perlu diingat kalaupun asli bukan dari 'source'nya.

Pas sampe di kasir ada sedikit adegan cukup 'aneh'
Dimana si ibu yang sepertinya pemilik toko ini sibuk membaca no kode barang jualannya. Sementara karyawannya mencatat no kodenya di mesin hitung. Dan ibu ini berpindah dari satu kasir ke kasir lainnya 2317, 7943,4343,34953, tut tut tut tut.....They can do it ...if you trust them they can do it.

Toko yang aneh....







Kamis, September 06, 2007

Pole the incredible



Pole dibaca POLE, bukan pol...seperti baca tiang bendera. Walaupun bentuknya memang tegak ngepole seperti tiang. Pohon Pole yang di literatur Barat dikenal dengan Java Olive (Sterculina foetida) salah satu pohon yang saya kagumi di Bali selain Kamboja (Plumeria sp), Beringin (Ficus sp), dan masih banyak pohon lainnya. Gakpapa kan jadi pengagum pohon, pengagum artis dah banyak. Mengagumi pohon berarti mengagumi ciptaan-Nya, mengagumi artis...(hmm..sama juga ya, tapi ya itu tadi dah banyak).
Pohon yang cantik, menakutkan? menakjubkan? kenapa? Yang jelas sangat 'catchy' dan selalu membuat saya menoleh, mendongak sambil bergumam waaaa.....

Kenapa saya kagum dengan pohon ini. Bisa dibilang pohon Pole ini pohon tertinggi di Bali. Kenapa bisa tinggi? Karena ini memang jenis pohon yang tumbuh besar dan pohon yang ditanam tidak disembarang tempat di Bali. Pohon Pole ini di Bali biasanya di tanam 'hanya' di pura.Yang berarti terkonservasi dan terlindungi selama tidak rubuh, pohon di Bali memang jauh lebih beruntung dibanding pohon pohon lainnya di penjuru negeri ini, 'sacred' adalah alasan sempurna yang tak tergugat untuk konservasi pohon. Mungkin orang dulu sudah sadar betul estetika saja tidak cukup untuk membuat orang tetap bertanam pohon. Ditanam tidak disembarang pura juga. Menurut buku tropical trees pohom ini ditanam di pura yang berasosiasi dengan Dewi Durga.

Dalam literatur Hindu, Durga adalah istrinya Siwa dan mamanya Ganesha (logo kampusku dulu) dan Kumara (sama namanya dengan nama tetangaku). Kalau dilihat ilustrasinya di wiki masuk akal kenapa pohon ini diasosiakan dengan Durga, Bentuknya yang tinggi cantik dengan banyak tangan dengan posisi mudra. Candi Prambanan dipersembahkan kepada Dewi ini. Hmmmm...nggak 'notice' mungkin dulunya ada Pohon Polenya juga ya, disebelah mananya ya? Ada yang paham soal ini? mustinya ini bagian dari konservasi juga ya (kalau memang dulunya ada). Arsitektur dan lansekap memang satu paket yang tidak bisa dipisahkan.

Pohon Pole di desa Semana, Sibang Kaja Mambal. Bandingkan tingginya dengan pohon kelapa yang masih abg di depannya dan pohon beringin besar di belakangnya. Penempatan pohon ini juga biasanya cukup stunning di dalam pura Durga yang bertembok. Dan kalau pohon ini terus membesar akan terlihat sangat tight dalam pagarnya. Posisinya juga seperti berbagai pura di Bali sangat strategis di perempatan jalan, ujung tusuk sate, tikungan. Hmmm...ternyata node, path, landmark dalam Urban Design modern sudah ada di tanah ini sejak jaman kuda belum pake sepatu besi.



Pohon pole ini seringkali dijumpai dalam keadaan tidak berdaun sama sekali atau berdaun tapi tidak berbunga. Kalau sedang ke Bali di sekitar Renon ada Pohon Pole yang tinggiiiiii banget, tidak mati tapi jarang banget berdaun. Saat berbunga pohon ini cantik banget.


Pohon pole dikenal sebagai pohon yang angker di bali. Kata seorang teman di sekitar lokasi ini sering dipakai tempat pertempuran. Pertempuran apa maksudnya? Ya..pertempuran yang nggak keliatan, tapi kadang kita masih bisa denger berisiknya dan bola apinya. Waduh...yang beginian saya ngga ngerti, buat saya ini pohon yang cantik.

Dalam literatur Kawi kuno kulit pohon pole ini sudah disebut sebagai obat.
Mwah sêmbar dadanya, úa, don kutthat kdis, don nyunglà, katumbah babolong, uyah arêng, sêmbar dadanya rawuh ka ulun hatinya. Mwah sêmbar waduknya, úa, carmman pole, nyuh tunu, tmutis, sindrong denà sangkêp, sêmbar waduknya
artinya:
Sarana untuk obat sembur terdiri atas daun kutat kedis, daun nyungla, ketumbah, garam hitam, dipakai menyebur dada hingga ke hulu hati pasien. Sarana untuk menyembur perut pasien, terdiri atas kulit pohon pule, kelapa bakar, temulawak, rempah-rempah lengkap.
Obat sembur maksudnya apa ya? Mungkin obat luar yang dikumur kumur oleh si 'healer' lalu baru disembur ke tubuh si sakit. Hmmmmm....

Dari citranya yang cukup mengerikan ini, khasiat herbal pohon pole tidak kalah mengerikan juga di nutfactory disebutkan, Berefek 'purgative/laxative' releaving constipation, bikin pusing, sakit kepala dan dalam jumlah banyak bisa menyebabkan keguguran. Waduh...ini baru mengerikan.



foto-foto by m'pri

Sabtu, Juni 23, 2007

The Runaway Bride

Setelah sempat tersesat kegelapan alam di desa berdinding bata bali dan Pak Made berkali kali menyetop orang untuk bertanya nama desan &banjar tempat resepsi pernikahan (di Bali cukup berbekal nama desa,banjar, dan nama orang yang dicari, pekerjaan atau ciri ciri fisiknya kita bisa menemukan orang yang kita cari),akhirnya kami bisa juga menemukan lokasi resepsi pernikahan teman kami yang kawin lari
.Seperti judul filmnya Julia Roberts & Richard Gere yah. Diberi judul kawin lari karena memang pihak wanita yang berkasta tinggi tidak disetujui untuk menikah dengan pihak pria yang tidak berkasta. Agak aneh kedengeranya ya untuk orang 'Jawa' yang belum terbiasa, dengan istilah seperti ini. Secara teknis, ya seperti pernikahan biasa yang diadakan di pihak mempelai pria namun tidak dihadiri seorangpun kerabat dari pihak mempelai wanita.


Yang unik buat orang 'Jawa' yang belum terbiasa adalah jarang sekali acara pernikahan yang berlangsung di hari sabtu atau minggu, Kata teman kami kemungkinannya hanya 2/7 atau 28,571428571428571428571428571429 %. Biasanya hari pernikahan di bali ditentukan berdasarkan hari baik. Kalo di 'jawa' terkadang orang malu untuk blak-blakan menyatakan hitung-hitungan hari pernikahannya. Hari baik di bali berlaku umum, maksudnya tidak seperti hari baik pada perhitugan cina yang menyertakan tahun kelahiran. Berlaku umum disini maksdunya pada kalender tahunan Bali sudah tercantum kisaran hari baik untuk menikah. Jadi jangan heran apabila dalam satu waktu bisa dijumpai banyak sekali janur kuning di sepanjang jalan.

Acara resepsi juga menarik, lebih seperti open house.Jadi acara berlangsung sehari suntuk(ini untuk resepsinya saja, belum termasuk rangkaian upacara yang harus dijalani. Trisna masih memakai riasan kepala yang dari bentuknya sepertinya cukup berat,sejak jam sepuluh pagi sampai saat kami datang jam sepuluh malam. Jam sepuluhmalam? Iya karena acara pernikahan berlangsung hari jum'at kami pun baru berksempatan datang malamnya, setelah kloter lembur terakhir tentunya. Dan surprise...trisna masih memakai riasan komplit. Dengan acara bergaya open house seperti ini setiap tamu bisa berbincang hangat dengan kedua mempelai karena tamu yang datang sudah dibagi dalam waktu waktu tertentu. Berbeda dengan pernikahan ala 'Jakarta' yang terkadang sulit sekali untuk mengucap sepatah kata pada teman lama di pelaminan melihat antrian panjang salaman, dan MC yang mulai gelisah mengatur antrian.

Selamat ya Trisna & Blinya..


Jumat, Juni 08, 2007

Udeng & Peci

Nggak kerasa udah Jum'at lagi ya... Asiknya hari Jum'at berarti dah mau weekend lagi, berarti juga kerjaan yang numpuk seminggu ini waktunya di print biar boss bisa check pas weekend (hihihi kasian juga ya jadi boss). Pertanda juga agak pulang telat menyelesaikan sisa sisa kerjaan yang sedikit sedikit tapi banyak. Berarti juga hari yang pendek karena kepotong Jum'atan di tengah tengah. Nah ada sedikit cerita tentang Jum'atan di pulau Bali


Sebelum menjejakan kaki di Bali, yang pertama saya googling masjid mana yang terdekat dengan tempat kerja saya di sekitar Ubud, Bali hasil penelusuaran via googling nihil, ternyata memang tidak ada masjid di Ubud. Muslim di bali yang cukup banyak di daerah Singaraja, Bedugul, Kelungkung, yang ini penduduk bali asli. Dan tentunya Denpasar dan seputaran Kuta, dimana orang sudah campur baur bukan sajadari Indonesia tapi dunia.

Wah repot dong kalo Jum'atan padahal Shalat Jum'at wajib. Bahasa kasarnya di Bandung preman & pemabuk aja malu kalo ngga Jum'atan. Sewaktu kerja di Bahrain sebelum ke Bali, saat shalat Jum'at masih banyak orang berkeliaran di jalan. Aneh kan? Itu karena mayoritas penduduk Bahrain muslim syiah, mereka biasa shalat dhuhur biasa 4 rakaat di hari Jum'at dan tentunya di masjid syiah. Seorang rekan yang hendak shalat Jum'at terkejut karena ternyata shalatnya 4 rakaat.

Kembali ke Bali, Masjid terdekat yang saya temukan dari kantor saya posisnya di Gianyar. Kalau bicara dengan lokasi objek wisata, Lokasi kantor saya tidak jauh dari posisi start point SOBEK rafting di sungai ayung dan lokasi masjid terdekat ada diantara Goa Gajah dengan pusat Kota Gianyar, tepatnya di Semabaung Gianyar. Selain disini ada juga Masjid Di Ginyar di lokasi kompleks militer berada. Jadi kalau ada diantara pembaca yang sedang main ke Ubud Bali,masjid terdekat sekitar setengah jam dari Ubud, atau empat puluh lima menitan dengan bermotor 40-60 km/jam dari tempat kerjasaya di Payangan. Walaupun perjalanannnya agak jauh asik juga, karena bisa break lebih lama dan saya masih bisa mengerti khutbah Jum'atnya dibanding sewaktu di Bahrain yang berbahasa Arab & saya tidak(belum) mengerti bahasanya.

Yang unik lagi, saat mau pergi shalat Jum'at peci bisa berubah jadi sakti. Polisi di Bali tidak akan menilang orang yang berpeci saat akan pergi Jum'atan walaupun tak berhelem, asal berpeci, malah kadang asal beselendang sajadah atau asal bersarung. Banyak loh yang bersarung naik motor, kebayang kan.Sekarang bayangkan lagi ada juga yang naik Honda Tiger atau suzuki Thunder dan bersarung. Kebayang kan? Ya kalo ngga di 'singsatin' (apa ya padanan katanya di bahasa Indonesia) sekedar diselepangin ala unyil dan bercelana pendek. Ini juga tidak ditilang, asal ngga terobos lampu merah. Saya pernah melihat polisi menilang seorang Bapak berhelem full face disimpan di jidat, dan saat bersamaan orang berpeci yang hendak shalat Jum'at berlalu begitu saja.

Waktu ditanyakan pada seorang teman yang asli Bali jawabannya lucu juga, ya disini kan banyak agama jadi saling menghargai.(di Jakarta pun banyak agama, tapi berpeci tanpa helem melintas di Jalan Raya kena tilang, hehehe). Jadi begini katanya, kalo dipadankan, saat ada upacara agama Hindu, para pria biasa memakai udeng (sejenis ikat kepala khas Bali) dan wanita bersanggul. Nah ini agak repot katanya kalo harus pakai helm...ooo begitu ternyata nah hal seperti itu diterapkan untuk umat beragama lain juga, termasuk saat mau berangkat shalat Jum'at. Jadi teringat cerita teman si Singapura orang sikh India yang berturban pun bebas dari kewajiban berhelm.

Saya sendiri lebih memilih tetap berhelem dengan alasan keamanan.



Rabu, Mei 30, 2007

Navigasi ala Bali

Apa yang pertama kali terbayang di benak sewaktu mendengar kata Utara?
Di benak saya sewaktu mendengar kata Utara langsung terbayang petak kecil rumah di Bandung yang menghadap Ke Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat jelas sebelum rumah tetangga di depan rumah di tingkat jadi dua lantai, Matahari tebit di sebelah kanan (Timur) Terbenam di Sebelah Kiri (Barat), Sedangkan Selatan, adalah belakang rumah yang dulu masih sawah sawah.


Jadi dimanapun saya denger kata Utara halaman rumah itu selalu terbayang.

Di Bali kalo tersesat atau bertanya jalan jawabannya mungkin agak diluar dugaan untuk 'orang kota' yang sudah terbiasa dengan navigasi 'modern' kiri & kanan.
"Dari sini Jalan aja terus Ke Utara...nah di pertigaan dimana ada pohon banyan (beringin) belok ke Timur, nah begitu ada belokan Pertama langsung aja ke Selatan." Kata seorang Bapak Tua dengan logat bali yang cukup kental.

Bingung? iya, jelas...
Yang pertama, saya harus membawa seting halaman rumah itu lagi (hehehe) begitu mendengar kata Utara.Lalu membayangkan berbelok ke kiri begitu denger kata Timur, membayangkan sawah sawah di 'belakang' rumah begitu mendengar selatan.

Namun sistem navigasi ala Bali ini ternyata jauh lebih unggul dari navigasi modern ala kiri dan kanan. Navigasi kiri kanan bermakna relatif. Kiri kanan menghadap kemana? Kiri kanan saya atau kiri kananmu? Instruktur senam yang membelakangi kita jauh lebih mudah ditiru gerakannya daripada instruktur peraga di lomba aerobik yang menghadap ke peserta. Makna Utara, Selatan, Timur,Barat bermakna mutlak dan pasti, tak heran dalam penerbangan pun pakai arah mata angin bukan kiri kanan.

Saking akrabnya budaya bali mengunakan arah mata angin ini malah seringkali dipakai di penggunaan kaimat yang menurut kebiasaan saya agak aneh, sperti waktu lampu mobil kami bermasalah dan dibawa ke bengkel, teknisi bagian listriknya sebelum memeriksa seluruh sistem pengkabelan memeriksa sekring di dekat kemudi.
" Oh ini mas, sepertinya sekering yang Utara putus.."
" Utara? yang mana, yang atas maksudnya?"
"Iya yang Utara."
Waduh gawat juga ternyata sisitem navigasi ini dipakai juga ya buat di joystick PS sepertinya.


Rabu, Mei 16, 2007

Berburu Lukisan di Bali



Affordable art, istilah yang mulai banyak digaungkan berbagai penjuru dunia. bagaimana caranya untuk mendapatkan affordable art ini? Turut serta dalam affordable auction? Pelelangan lukisan murah,? Yang akan saya ceritakan disini bukan kelas affordable artnya Sidharta Galery di Jakarta tapi benar benar affordable art versi street auction di Bali.

Baru baru ini dapet titipan dari seorang temen arsitek lukisan buat dipasang di tempat yang baru direnovasinya.
"Cariin lukisan yang proposinya memanjang dong, tinggi tingi gitu, kalau ada gambar perempuan."
Beberapa pembeli lukisan sudah menentukan tema buat lukisan yang ingin dibelinya, untuk alasan sederhana untuk memudahkan pencarian dan fokus pada satu tema. Atau untuk alasan yang menurut saya irasional. Seorang teman pernah mendapatkan titipan lukisan buah-buahan dengan alasan peruntungan yang dihubungkan dengan tanggal kelahiran, fengshui?

"Berapa budgetnya? "
"Ya 500 sampe sekitar 1 juta lah katanya..ukurannya kira kira 90 cm x 180cm an bisa dapet ngga dengan budget segitu?"
"Bisa bisa banget...beberapa bulan yang lalu Bapak waktu main ke bali beli dua lukisan abstrak besar sekira 120x180 cm besar seharga 300 ribu(2 buah)".Jadi satunya 150 ribu.

Lukisan biasanya identik dengan harga mahal, mewah, mewakili kelas menengah ke atas? apakah begitu? Apakah tidak ada lukisan buat ruang tamu rumah tipe 50,36,21? Kenapa takut, seni adalah buat semua orang, walaupun mungkin kelasnya berbeda. Lukisan kelas pasar ubud, lukisan kelas pasar sukawati? jelek? Tidak juga...kalau pinter pinter memilih painter dan melihatnya yang mana yang bagus, mana yang latah & pasaran, mana yang latah dan masih bagus mana yang latah tapi pasaran.

Ternyata perjalanan ini tidak semudah seperti membeli 2 kg wortel, ada barangnya dan beli. Barangnya ada banyak, walaupun yang mau dibeli hanya satu dan musti dipilih, namanya juga buat orang lain, walaupun yang kita pilih barang pasar bukan berarti kualitasnya jelek. Memilih lukisan buat di rumah sendiri rasanya lebih mudah daripada lukisan seperti titipan temen ini, kalo jelek malu soalnya. Di Bali berbagai gaya dan tipe lukisan bisa ditemukan dan dipilih, banyak sekali galeri lukisan di Bali, disini saya tidak akan berbicara lukisan kelas galeri mahal, saya akan cerita tentang lukisan jalanan di pasar Seni Sukawati & di Pasar Seni ubud? apa bedanya lukisan di dua pasar seni ini? lanjut aja kalo masih penasaran



Pasar Seni Sukawati.



Dengan skintone sepert kulit saya ini, mata sedikit sipit rambut lurus, berjalan dengan istri yang berkerudung. begitu melewati deretan penjual lukisan mereka akan bilang, ayo tengok tengok, (dikiranya kita dari malaysia, apa ada rupakawak macam orang malay?), begitu tau dari indonesia juga tawarannya jadi begini, "Ayo lihat lihat dulu ngga papa, harga murah harga murah, ngga papa liat dulu barangkali ada yang cocok". Ramah ramah loh para penjualnya, bom bali yang dikutuk banyak orang di bali dan seluruh dunia mejadi pelajaran sangat mahal untuk ramah pada siapapun termasuk wisatawan lokal yang dulu suka dipandang sebelah mata.

Saya dan istri lebih memilih lukisan abstrak yang cocok dengan warna rumah, atau posisi yang cocok buat disimpen di rumah kontrakan yang cukup kompak (baca:kecil). Jadi waktu pilih pilih ini cocok nih buat di dinding anu...biar ngga kosong ini cocok buat di dinding kosong sebelas sana biar ada sedikit kehdupan. Bagaimana dengan harganya? Ini tergantung tingkat apresiasi anda sebenernya, yang perlu diingat membeli lukisan murah bukan berarti tidak mengapresiasi senimannya (ini pembenaran dari sisi pembeli sih sebenernya). Membeli lukisan mahal bukan berarti jua tingkat apresiasi kita terhadap lukisan itu berbanding lurus, kalo sekedar lifestyle dan untuk bilang ke tetangga lukisan ini saya beli 10 juta loh...kayanya belum mencerminkan apresiasi yang tepat tuh.

Lukisan abstrak yang terpajang di ruang tamu kami didapat seharga 80 ribu dari harga penawaran 200 ribu. Kadang musti pakai cara take it or leave it, maksudnya? Sewaktu penawaran dan kita tawar dengan satu harga (bukan harga final) yang sekira 50% atau malah 2/3 dari harga penawaran kalau ngga dikasih ya udah leave it, mungkin..(mungkin loh ya) sesudah berjalan dua sampai sepuluh langkah kedepan anda bakal dipanggil lagi...adjust sedikit harganya..dan transaksi. Tapi kalo ngga minat dan ngga tertarik dengan lukisan yang mau kita beli ngga usah tanya harga dulu, dan jangan nawar ntar dikasih lagi malah repot. Tapi kadang kadang cara yang agak rude ini ngga perlu diakukan kalo penjual memberika harga yang wajar (versi pembeli tentunya) .

Materialnya sebenernya ngga terlalu bagus, canvas tipis dengan cat campuran cat tembok & cat minyak. Waduh kok cat tembok...? tapi justru cat temboknya yang bikin warnanya matt dan kita suka. Komposisinya, yang penting enak dlihat dan ngga terlalu pasaran.

Selain tipe abstrak yang banyak sekali di pasar sukawati lukisa gaya tradisional yang masih jadi icon menarik buat turis mancanegara, biasanya lukisan burung-burung, tapi biasanya gaya lukisan tradisonal seperti ini tidak sehalus lukisan tradisional di Batuaan Gianyar, yang banyak dipajang di Museum Neka Ubud, ada harga adaa kelas memang. Lukisan aktifitas sawah ladang, bunga kamboja dengan tampilan planar 2 dimensi masih sangat menarik untuk turis mancanegara, Lukisan bergaya seperti ini dulu beredar hampir di setiap bank di kota kota besar indonesia. Lukisan naturalis buah buahan &still life bisanya banyak dibeli ibu ibu rumah tangga, penjualnya biasanya bilang, begini bagus bagus Bu murah urah cocok buat di ruang makan (menunjuk lukisan still life bergambar pisang). Yang ngga ada matinya juga lukisan kuda berlarian dengan cipratan air atau debu, ada yang ekskusinya bagus ada yang agak nanggung. Gadis Bali bertelanjang dada juga banyak dijajakan disini, tapi biasanya eksekusinya nanggung naturalisnya ngga dapet.

Jadi buat pilih pilih lukisan di pasar sukawati ini perlu pengamatan yang agak tajam, bermain cantik saat tawar menawar biar sama sama senang. Persis seperti belanja sayur atau buah, musti pilih pilih

Pasar ubud


Sudah sejak lama Ubud dikenal sebagai aerah seni & budaya termasuk lukisan. Sejak era para pelukis tradisional, hingga jamannya arie smith, Antonio blanco, yang konon tadinya hanya mau menetap 3 bulan saja di ubud hingga akhir hayatnya tak pernah pulang.

Dari pegamatan sekilas, dari sisi kualitas material lukisan di pasar ubud lebih bagus.Kanvas yan dipakai kanvas yang tebal...dengan cat acrylic, cat minyak lebih berkualitas..(hehe tanpa campuran cat tembok). Soal harga? lebih bagus juga tentunya, di pasar Ubud lebih banyak didatangi turis turis macanegara daripada pasar sukawati. Gaya dan style? Nah banyak juga yang latah...Biasanya kalo satu tipe lukisan laku beramai ramai akan ada lukisan bertipe sama. Kalau kita beli satu dan disimpen di tempat yang tepat, masih bisa bagus dan cute. Saat ini yang sedang menyerbu ubud, gaya abstrak simpe kotak kotak, kubistis, di ruangan yang cocok bisa jadi elemen yang menarik. Bagaimana cara menilai lukisan abstrak ini bagus atau nggak? ya simple aja, kalo disimpen di ruangan yang mau kita simpe enak ngga buat dilihat? Kadang lukisan ini ngga harus teriak berwarna merah, gadis cantik telanjang bugil, kadang bisa berupa sapuan yang halus dan sopan, ada tapi tidak menganggu dan yang pasti cocok dengan ruangannya.

Sampai kapan sindrom abstrak ini melanda pasar ubud? jawabannya tergantung sama buyernya...pembeli suka yang mana. Jadi complicated kalo begini seniman atau perajin yah jadinya, atau seniman yang rajin. Sementara yang rajin belum tentu seniman, dan banyak juga lukisan yang dikerjakan dengan rajin tapi (menurut pandangan subyektif saya) ngga nyeni, latah dan pasaran.



Jalan sedikit ke belakang pasar ubud nah banyak sekali kios kios lukisan disini. Sebagian sekedar penjual ada juga yang sekaligus pelukisnya. Di kios pak Made yang ternyata menerus sampai ke belakang rumahnya keluarga besar ini hidup dari lukisan, Ada tiga kakak beradik yang aktif melukis di rumah ini. yang lucu di antara lukisan lukisan yang dijualnya ada kanvas kecildan kertas kertas yan menyelip...Ini buatan anak saya masih kelas satu SD, dia sih seneng seneng aja & merasa bangga lukisannya disejajarkan dengan buatan bapak dan paman-pamannya.



Kadang ada juga tamu tamu dari eropa yang beli. Walaupun di kios Pa Made kita belum menemukan yang kita cari ,Pak Made tetap ramah melayani, Saat dua orang Tamu asing masuk, Pak Made sibuk memangil adiknya untuk menemani tamu itu.Nah ini yang perlu dicatat: Dia tidak meng’ignore’ kita walaupun tamu lebih prospektif datang.

Di gang paling ujung kami menemukan lukisan abstrak yang sepertinya cocok buat pesenan seorang teman kami, abstrak tidak mudah ditebak dan gayanya ngga terlalu pasaran, Di tandatangannya tertera Yandus,



“Ini bli pelukisnya?” Tanya saja pada penjualnya
“Bukan saya sih ngga bisa lukis, ini titipan temen saya...”
Dari harga pembukaan 700 ribu lukisan berkuran 90x 150 cm ini mentok di 500 ribu.
" Ini dah murah bang, saya ngga bisa kasih lebih murah lagi, pelukisnya lagi ngga di Bali, lagi ke Sulawesi."
"Ngapain? Main di PSM? "
"Nggak main bareng PERSEGI (Persatuan Sepakbola Gianyar atau sekarang bisa disebut Bali FC) di sana. wah kaget juga ternyata pelukisnya seorang atlet sepakbola, kombinasi yang unik. Keduanya seniman & atlet profesi yang serngkali dipandang sebelah mata oleh banyak orangtua di negeri ini. Kemarin lukisan dia 6 buah yang besar besar diborong orang Australia kata bli Kadek yang lagi sibuk membungkus.

Wow...dari goresannya bisa dibedakan mana yang dibuat oleh pelukis yang rajin dan perajin yang mencoba melukis. Perajin yang mencoba melukis akan membuat lukisan yang tipikal dan sama, ini tidak.


Monkey Forest Ubud..



Jadi pelukis memang tidak mudah kata bli Aji dengan galeri Aji'e place di monkey forest yang lumayan besar beralih membuat layang layang, jangan, berkepala naga khas bali. Layangan lebih laku bli? Yah ngga juga sih....katanya sambil senyum (miris), beruntung di belakang studio yang juga ruang pamernya masih terampar sawah yang padinya terlihat gemuk. Di studionya terdapat beberapa lukisan yang strokenya kelihatan berbeda, yang ini keliahatn berani, berstatement, dengan gabungan kolase koran, berani & asik walaupun ngga cocok berada di rumah saya, buat ilustrasi di media asik sekali gayanya.
"Yang itu titipan, karya tugas akhir anak STSI denpasar..."
"Wah pantesan yang ini agak beda, lebih berani.."
"Tapi tetep mas jadi pelukis jaman begini sulit...mukanya pesimis…lukisan bagus juga belum tentu laku"
Sepanjang Monkey forest terdapat beberapa Galeri lukisan yang kalo cermat memilih, mungkin bisa mendapatkan lukisanyang cocok. Memilih lukisan susah susah gampang, bukan maslaah bagus tidaknya tapi cocok tidaknya.

Sama seperti pasar sukawati jangan dulu tanya harga kalo ngga tertarik atau blom minat..
Kalo memang niat dan mau beli tawar saat itujuga dan beli...Atau tawar dulu…baru kembali lagi sambil liat liat galeri ‘jalanan’ lainnya. Barang seni yang murah bukan berarti tidak berkualitas.


Sabtu, April 21, 2007

Pantai Padang Padang




Setelah dulu sempat salah informasi tentang lokasi pantai padang-padang bali, akhirnya ketemu juga walaupun masih sempat tanya sana sini. Jauh hari sebelumnya malah sempet tersesat ke padang bay, yang ini bukan pantai tapi pelabuhan feri ke lombok. Informasi tentang panai padang padang memnag tidak teralu jelas. Dari bandara ngurah rai terus ke arah GWK dan uluwatu, rupanya kelewat, dari hasil tanya du ura uluatu ini katanya balik liagi...ada pertigaan belok kanan dari pertigaan lagi belok kanan ada jembatan trus liat kebawah...wow..pantai kecil yang indah.


Pantai ini sekalin dikenal dengan sebutan pantai padang padang juga dikenal dengan sebutan pantai Suluban.Disini Tiara Lestari pernah mengadakan session pemotretan untuk pameran fotonya from sensual to elegance. Yang menarik dari pantai padang padang ini ukuranya tidak terlalu besar, sekuennya yang unik, dari melihat aerial view, menurun menyempit menembus karang, gelap terhimpit, lalau tiba tiba disuguhkan pandanngan yang luar biasa. pantai ini tidak ramai dikunjungi orang apalagi saat pagi hari, jauh berbeda dengan keramaian di Pantai Kuta Bali atau Sanur yang banak dikunjungi rombongan.

Ini foto fotonya,


berhenti sebentar sebelum turun ke bawah jembatan. Paling Ujung, Fajar yang lagi menjajal Lumix barunya...Optical Zoom lensa kameranya mantap. Mas bham dengan EOS 350D, ikaku dengan 350 D, pada bawa lensa lensa moncong semua sementara si kacang s70ku cuman28-105mm yah udah moto yang lagi moto aja.

Ini pemandangan ke bawah


Ini jalan masuk ke pantai padang padang...kita musti melewati celah anatar dua tebing baru karang.


Pantai padang padang di bawah





Lagi asyik asyik foto foto, ada objek menarik...gadis telanjang sedang berjemur di tepi pantai yang putih bersih.




gadis? ya kalau tidak gadis bisa juga disebut betina, yang jelas dia tanpa busana kan.

Jadi kalau mau jalan jalan ke Bali jangan lupa main ke pantai kecil yang indah ini, Dari sejak pagi nongkrong ngga kerasa udah jam 12 lewat. Suara ombakdan deburannya di kaki emang bikin lupa waktu. Jalan jalan ke pantai sini, Selatan Bali bisa juga sekalian Ke Pura Uluwatu yang banyak monyet untuk hunting sunset asyik bgt, monumen Garuda Wisnu Kencana, Pantai Dreamland.