Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 26, 2016

Bikin proyek iseng baru sketchup model orang Indonesia. Ada beberapa sketchup model yang sengaja dibuat untuk sebuah kompetisi desain arsitektur tahun lalu. Daripada terpendam di hardisk, lebih bermanfaat kalau dibagi. Agak susah mencari skala manusia untuk desain di sketchup dengan konteks Indonesia apalagi di desa yang bisa diunduh di trimble warehouse.

Jadi kalau pemirsa ketik di 3dwarehouse cukup dengan kata kunci 'orang indonesia'. Mudah mudahan banyak yang akan menyumbangnkan karakter orang Indonesia apa adanya, dari mana saja. Sementara ini yang baru saya upload hanya 11 model, dengan karakter ibu ibu petani, bapak bapak petani, anak anak bermain, polisi hutan, ibu ibu sedang mengayam, pak guru,  kebanyakan dari desa nanti kalau ada waktu luang akan ditambahkan sewaktu waktu. .

Sengaja diupload di 3d warehouse bukan untuk eksis (itu sudah), bukan ingin tampil (ini sering), yang jelas untuk memudahkan saya sendiri mencari koleksi saya sendiri, yang terkadang bingung disimpan dimana, di notebook kah, di komputer kantorkah, di pc rumah, atau di dropbox..

Silakan diunduh koleksi orang indonesia untuk sketchup, ditunggu partisipasinya dengan menambahkan tag 'orang indonesia' pada model sketchup orang Indonesia yang diunggah. Langsung lompat ke TKP "Skecthup model orang Indonesia".

Selasa, November 20, 2007

cad monkey adalah...


foto:ikaku

Beberapa bulan lalu di status yahoo mesenger seorang teman yang bekerja pada sebuah biro arsitek di Sanur Bali, tertulis cad monkey lengkap dengan avatar monyet yang sibuk di depan komputer.

Beberapa hari lalu saat membaca vitamin otak, coroflot creative seed blog salah satu kontributornya Carl Alvianni seorang industrial designer menuliskan pekerjaannya sebagai cad monkey. Hari ini saat membaca profil Cameron Sinclair aktifis Architecture for humanity di buku Design Like You Give a Damn tertulis...
I had move from London to New York and was working at a small design firm as an associate desgner, the fancy title fit a computer-aided designer, better known inside the profession as a CAD monkey. Wah lagi lagi cad monkey

Sekarang kita lihat yuk definisi Cad Monkey versi urban dictionary.

by toby vongkoth Dec 7, 2004
whoring draftsman using computer aided design(drafting)
Look at that cad monkey make magic with a mouse!
Hihihi, kalo definisi pake ini I'm a cad monkey

by kego talbot Mar 19, 2005
1. one who assists a computer aided drafter/deisgner in carrying out mundane and repetative cad related duties such as printing, printer maintenance, and simple text edits.
2. A low level cad person who makes edits with no regard for or knowledge of proper production methods or standards. syn.- cad hack
3. An actual monkey or ape trained to perform simple cad edits and tasks.
any combination of definitions 1, 2 or 3.
We'll need to hire a few more cad monkeys if we expect to meet the deadline.
These drawings are so f****d up! If I find the cad monkey responsible, why I'll....
Waduh, kayaknya aku ngga gini gini amat deh

by C dot T dot Jul 21, 2006
An employee who does nothing but CAD drafting - all day, every day - for a architectural, landscape architectural, engineering, etc. firm.
I studied for 7 years at Harvard and now I'm a cad monkey for Frank Gehry.
Whuaa, Definitly I'm a cad monkey

Apakah anda juga seorang cad monkey? atau CEO? Cad eh Operator. Kalaupun iya rasanya tidak perlu malu menjadi cad monkey.




Rabu, November 14, 2007

Tell Beydar kota tujuh gerbang

Tulisan yang tertunda karena kesibukan setelah beberapa lama ngendon di draft . Setiap kali datang ke soupchat, hampir selalu ada kejutan kecil yang tak terduga. Seperti Sabtu sore itu di Asin Bungalow milik etha di daerah Nyuh Kuning Ubud sambil menyeruput sup labu dan sup makaroni yang daripada bingung memilihnya diseruput saja keduanya.

Soupchat 10 di bulan Agustus 2007 ini diramaikan oleh suara berwarnanya Kacir...pemuda Papua bertampang mirip Judika bersuara Tompi. Presentasi Pak Marcl L dari European Centre for Upper Mesopotamian Studies dengan Tell Beydar dan Bobby presentasi thin clientnya..

Kali ini akan saya ceritakan kembali soal Kota tujuh gerbang presentasinya pak Marc. Seperti cerita epic, atau seperti permainan game komputer age of empire, age of mithology yang sudah lama tak saya mainkan lagi. Pa Marc menceritakan pengalamannya sebagai arkeolog dalam penggalian kota tua di Syria utara (North Messopotamia) tepatnya Tell Beydar.

Presentasi yang awalnya terlihat membosankan ini ternyata semakin disimak semakin menarik. Kondisi kota ini sebelum penggalian hanya berupa gundukan bukit tak bertuan. Seperti bertemu tokoh di film-film tentang Mesir Kuno. Pak Marc yang humble mengawali pembicaraannya dengan saya bicara atas nama tim,(waah beda banget ya dengan yang mengaku pakar IT itu, saya yang menemukan lagu indonesia raya versi aseli). Dan katanya ini merupakan kali pertama beliau mempresentasikan karyanya di luar Eropa dan Midle East. Wow...Terimakasih Pak Marc

Baru tahu pekerjaan arkeolog yang sebenarnya, wow...film film Holywood yang selama ini kita tonton yang banyak mengidentikan arkeolog melulu dengan dinasaurus ternyata lumayan (teramat) menyesatkan. Dalam kenyataannya sangat multidisiplin, belajar sejarah, sosial, antropologi, yang bisa membawa kita ke Jaman dimana kota ini tinggal. Pejamkan mata, dan rasakan aroma dinding lumpur dari jaman 300o tahun sebelum jempol kaki kita menyentuh tanah.

Apa yang ajaib dengan Tell Beydar? Banyak. Kota ini dibangun pada masa yang sering disebut First Imperium. Saat dimana kerajaan besar muncul multi ras multi etnik, atau biasa disebut juga Early Bronze Age. Terletak di wilayah mesopotamia Utara, yang disebut segitiga Khabur. Berbeda dengan daerah selatan yang terbentuk dari tanah alluvium. Curah hujan cukup dan sudah mengenal irigasi. Oleh pa Marc kita dibawa ke jaman seratus tahun sebelum raja Sargon dari Akkad menginvasi daerah ini (sekira 2350 tahun sebelum masei, waah perjalanan yang jauh ya). Kalau ditarik garis ke mesir saat itu di Gizeh orang sedang sibuk sibuknya membangun pyramid (2570 sebelum masehi) . Walapun saat itu kontak antara dua pusat kebidayaan tertua di dunia ini sangat sedikit.

Kota ini dilindungi dengan dua lapis benteng batu tebal dan tinggi dan memiliki tujuh Gerbang. Dilamnya terdapat tidak kurang dari 3000 orang dengan berbagai pembagian kerja. Waaah langsung deh, imajinasi liar saya membayangkan setting tempat tell beydar saat jaya jayanya ada pasukan tentara, petani, dengan baju bajunya yang unik, kerumunan dengan bahasa yang tak familiar ditelinga.

Benteng seperti alasan kebanyakan untuk melindungi warga kota dari berbagai gempuran. Yang mengharukan sudah ditemukan kloset duduk, dan sistem sanitasi yang baik. Sejarah per-wc an ternyata sudah ditemukan 3000 tahun lalu disana. Mungkin karena disana tak ada empang atau semak semak rimbun seperti di Indonesia. Tak heran tak ditemukan peninggalan purbakala per-wc an di Indonesia (tolong betulkan kalau saya salah)


foto udara A. Poidebard, beydar.com

Yang membuat lebih takjub lagi dari gundukan tanah tak bermakna ini mereka akan merekonstruksi Tell Beydar seperti masa lalu. Session tanya jawab pun disemarakan dengan berbagai pertanyaan.

Ini sebuah kerja besar, Tim arkeolgi ini terdiri dari berapa orang?
Benar pekerjaan penggalian ini sudah berlangsung bertahun tahun, dan masih akan terus sibuk. Gundukan di Syiria bukan hanya di Tell Beydar. Dan dari setiap gundukan saja hampir bisa dipastikan pernah jadi tempat kediaman sebuah peradaban, dan setiap layer penggalian erdapatberbagai jaman yang berbeda (whuaa...asyik juga ya jadi arkeolog ) .Tim kami terdiri dari sekira 30 orang dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai negara yang berbeda termasuk Syiria tentunya, negara di Timur tengah dan Eropa. Kami sendiri dari Belgia, dibantu banyak mahasiswa dan para pakar dari bidangnya masing masing ada sosial, budaya, arsitektur, antropologi. Tidak semua harus ada disana setiap saat tentunya, ada orang indonesia juga loh (wah mau dong ikuut jalan jalannya)

Kenapa sebuah peradaban bisa hilang dan terkubur seperti Tell Beydar, kita tahu mesopotamia dulu pusat kebudayaan tertua dengan berbagai peninggalannya, tapi kalau dilihat di Iak sekarang kondisinya sangat terpuruk? apakah ada saat yang hilang diantaranya?
Bisa terjadi karena banyak hal, bisa bencana alam, perang. Sejarah itu terjadi dalam proses yang selalu naik turun ada saat jaya, turun, selalu begitu di berbagai peradaban dunia. Apalagi saat jaman seperti Tell Beydar ini mereka punya musuh dari berbagai arah yang berbeda.

Bagaimana cara mereka membuat dak datar dulu?
Mereka menggunakan batang kayu, daun palem atau jerami, lalu menuang larutan lumpur diatasnya, seperti kita membuat dak beton. Walaupun ada hujan tidak sebanyak di Bali tentunya.

Kenapa mereka membangun rumahnya dengan menggunakan mudbrick (dari lumpur basah) bukan dengan bake brick (bata bakar)?
Kalau kita lihat dari lokasinya. Syria utara, bukan daerah yang ditumbuhi banyak pohon. Untuk membuat bake brick, selain butuh bahan bata juga dibutuhkan kayu untuk bahan bakar. Penggunaan bata bakar adalah sesuatu yang mewah, dan hanya ditemukan di bagian bagian yang penting saja.

Dalam konstruksi modern terutama untuk bangunan bersuhu ekstrem, 4 musim, aplagi bangunan di timur tengah biasanya terdapat insulasi yang berupa celah/ cavity atau material tertentu. Apakah ditemukan juga teknologi seperti ini?
Ini pertanyaan yang menarik. Kalau kita rasakan dan datang ke sana duduk di sebuah ruangan hasil rekonstruksi sebenarnya sungguh nyaman walaupun keadaan di luar sangat panas. Ini karena pemilihan material mereka mudbrick sebagi insulator panas yang baik, dengan ketebalan tertentu (yang cukup tebal) dan pengaturan penghawaan alami yang baik. Wah mereka sudah mengenal arsitektur hijau, low cost energy saving.

Bagaimana dengan proses rekonstruksinya? Apakah menggunakan metoda yang sama dengan metoda mereka membangun dulu?
Ini pertanyaan yang panjang, saya aan jawab dalam pertemuan selajutnya...(aduh..bersambung ternyata).

Kalau masih penasaran bisa diliat di beydar.com dengan tiga bahasa, Inggris, Perancis, dan Arab, pertanyaan terakhir yang belum terjawab bisa ditemukan juga jawabannya disana. Ada animasi, sejarah, proses restorasinya. Belajar sejarah ternyata bisa sangat menarik dan kait berkait, betapa kecilnya kita, betapa kecilnya sbuah peradaban yang bisahilang begitu saja ditelan bumi. Kenapa Bu Ating guru sejarah SMA membawakannya dengan amat membosankan, diramaikan dengan acara mencatat masal dan sama sekali tidak menarik. Ah mungkin bukan Bu Ating yang salah, mungkin gurunya bu Ating dulu yang salah. Atau memang aku dulu yang salah, yang lebih tertarik film animasi di tv dan main game.




Selasa, November 06, 2007

Kursi di pojok ruang si mbah

Oleh oleh mudik lebaran kali ini saya bawakan cerita dari rumah keluarga mbah Darso Sugito rumah no 04 di RT 15, RW VIII daerah Wedi Klaten,daerah yang cukup parah kena efek gempa Yogya beberapa waktu lalu. Di Rumah kecil ini mata saya mulai jelalatan. Selain mencicipi berbagai macam kue lebaran. Mata saya mulai menyapu, lantai dinding dan setiap jengkal yang bisa saya lihat. Plafon bilik yang terpasang rapi, jendela dengan kaca warna warni pengaruh de stijl. Menarik, lantai semen mengkilat yang kalo kerjaan kantor biasa diberi kode finishing CP, cement polished yang, dipakai juga di rumah ini.



Pintunya tidak kalah menarik membuat adik ipar saya yang bertinggi 186 cm harus sedikit merunduk. Tinggi pintunya tidak lebih dari sekira 175 cm saja, merundukan kepala untuk 11 cm. Skalanya nyaman, humble, dan ramah dengan ruangan yang memanjang tidak terlalu besar. Java scale, Skala Jawa, skala bangunan di jawa memang sangat manusiawi kalau perlu 'kejedot' 'kejedotlah' sedikit berbeda dengan skala bangunan kolonial, atau tipologi bale di kraton yang tinggi menjulang. Skala bangunan privat aristektur kampung kampung di Jawa sangat intim, Skala yang cocok untuk bercanda tawa lepas. Dugaan saya skala yang enak ini timbul karena pola aktifias yang dulunya lebih banyak berada di tanah,dipan, bale, lesehan. Jadi tak perlu langit langit atau pintu yang tinggi kan. Skala untuk sebuah produk desain atau arsitektur jadi penting, tak peduli apapun langgamnya kalau skala dan proporsinya tak terselamatkan, usaha selanjutnya tak berkontribusi banyak lagi. It's all about proportion,...Boss said.



Di pojokan ruangan terdapat tumpukan kursi yang kebetulan belum pernah saya liat, yang ternyata juga saya duduki.Memang sulit ya memperhatikan kursi yang diduduki daripada memperhatikan kursi orang. Seperti juga banyak orang yang mengkritisi orang yang duduk dikursi empuk, tapi kalau sudah duduk di kursi empuk...tidak terlihat ada yang janggal. Kalau anda hidup di desa desa, atau masih punya kakek di desa,atau setidaknya masih punya foto pernikahan Ayah Ibu atau saudara saudaranya. Perhatikan juga kursi yang digunakan disana.mungkin sama dengan kursi ini. Kalau ada yang seperti ini bagi bagi fotonya ya.



Rattan Stackable Chair, Kursi rotan produk lawas dengan desain yang cukup everlasting.Jadi teringat kemarin baru baca tulisannya Zenin Adrian di Jakarta post tentang pameran produk indsutri kreatif yang didisplay dengan cukup menarik didukung oleh ruang yang di desain Andra Matin. Berbagai produk diletakan begitu saja dengan dasar hitam, dinding hitam tanpa repot repot display, dengan tata lampu berbagai produk industri kreatif ini jadi begitu menonjol dan lebih terkesan seperti dalam sebuah pameran instalasi. Wah untuk ini saya boleh menyesal tak berada di Jakarta. Banyak produk bagus karya desainer Indonesia yang justru tidak mendapat apresiasi di dalam negeri. Wah mungkin kesadaran masyarakat Indonesia akan desain masih rendah ya? Atau kesadaran industri juga yang masih terbelakang? idiot? atau industri yang autis, asyik dengan dirinya sendiri. Berbagai produk plastik Lion Star sejak saya kecil hingga sekarang tidak mengalami berbagaiperubaha signifikan. Mungkin sudah cukup puas, atau sudah untung. Begini saja sudah laku kok mas, mungkin begitu kata si engkoh pemilik pabrik plastik ini.

Kembali duduk ke kursi.
Berbeda dengan berbagai kursi tradisional Jawa antik yang sudah populer di berbagai gerai furniture & interior , Kursi Jodang, Bondowoso, Madura, yang desainnya sudah menjadi desain publik (semoga kelak tak dipatenkan Malaysia) dibuat dengan desain kayu jati solid. Kursi lawas ini berbahan dasar besi dan rotan. Warnan besinya ijo ndeso. Bagian pijakan belakangnya dilas dengan sambungan pipa, silender ketemu silinder. Bagian kaki depannya ada bantalan karet dengan sambungan las yang berbeda, sambungan depan ini di pipih salah satu baru dilas. Satu pijakan kaki dengan sambungan pipa. Bergerak ke arah paha, ujung lengkungnya cukup nyaman dan ergonomis, yang menarik di bagian pantat. Dudukan kursi ini dianyam dengan anyaman rotan ckup lebar dengan pola anyaman bilik sederhana. Lendutannya cukup enak saat diduduki. Bagian senderan agak anti klimaks dengan plat besi tipis yang bagian belakangnya bercat kode HR24, HR 25, seperti layaknya kursi sewaan di tempat hajat. Bagian ujung senderan masih satu karakter dengan desain di bagian paha, lengkung lengkung tumpul, yang jadi jargonnya nokia, tiada sudut di badan manusia (mungkin nokia tidak melihat ketek sebagai sudut).

Dejavu, Mengingatkan saya pada berbagai produk furniture modern dengan syntetic rattan, ataupun yang dengan rotan asli. Seperti yang terdisplay di banyak toko toko furniture di daera Kuta, dan tersebar di berbagai tempat nongkrong di Bali. Ini salah satu contoh produknya, yang saya dapat disini. Dengan bantuan mbah gugel “stackable rattan chair”



Kursi ini terpaut jauh umurnya,speerti membandingkan si mbah di pojok rumah mbah darso dan abg ‘chick’ di kafe gaul. Namun si mbah masih bisa bertahan dengan desain yang tak kalah modern, bis ditumpuk (stackable), desain vintage yang ok. Tak jelas siapa desainer kursi di pojokan rumah mbah Darso ini, bertanya karya siapa sama dengan bertanya siapa penemu becak? Hasil revolusi Industri paska art nouveau dalam konteks keindonesiaan, hasil revolusi masuknya las karbit ke pulau Jawa.

Kalau mau dimodifikasi sedikit bisa jadi produk furnitur retro yang unik. Terpikir untuk mendandani si mbah di pojok rumah ini. Dengan material metal cat hitam matt, atau dengan metal brushed finish. Dudukan rotan yang unik juga pada bagian senderan daripada sekedar plat tipis.

Tapi sebaiknya kubuang jauh jauh ide desain retro si mbah ini, nanti malahan seperti mendandani mpok nori dengan bedak tebal. Kursi si mbah di pojok ruangan ini masih terlalu menarik buat didandani ulang. Ijonya, goresan cat yang tak rata, plat tipis senderan, yang justru membuatnya menjadi vintage stackable rattan chair aseli endonesa.









Selasa, Oktober 23, 2007

Urban Texture







Oleh oleh lebaran dari Tasikmalaya. Lebaran h-1, dan H di tasik. Kota Kecil yang banyak menyimpan berbagai tekstur yang sudah mulai jarang dijumpai di kota besar peninggalan kolonial lainnya.Sebagai daerah penghasil pasir yang pernah berjaya di jaman mitra batik kota ini cukup banyak menyimpan keragaman pola lantai semen berukuran 20x20.

Tiga foto ubin semen bermotif kasar ini biasanya posisinya terletak di trotoar kota, zona komersial bersempadan 0. Yang kalau di bandingkan dengan Bandung seperti di daerah braga atau kosambi. Yang menarik dari ubin semen ini semakin diinjak akan semakin terpoles dan mengkilat, murah perawatannya dan cukup kuat.

Sayang sekali ubin semacam ini semakin jarang didapatkan, sealin semakin sedikit yang memproduksinya pamornya kian tenggelam digantikan paving block.






Rabu, Juni 06, 2007

Di bawah pohon kita berkumpul

Baru baca buku tentang Semarang tadi malem. Tentang cerita Pasar Johar, kenapa dinamai Pasar Johar, apakah ada hubungannya dengan juragan pasar jaman dulu bernama Johar,Jauhari,atau Djuhara? nggak ada hubungannya. Jadi Johar nama apa dong?


Johar sebenernya nama pohon, Pohon Johar blum pernah denger? Kalau Pohon Mahoni? atau mahagony? pernah denger kan. Pohon Besar berkulit batang legam kemerahan, yang warna pucuknya saat kemarau hijau translucent ditembus sinar. Buahnya keras lebih besar dari kepalan Tangan, bijinya akan jatuh berputar putar seperti baling baling. Waktu kecil seneng sekali main buah mahoni ini, apalagi kalau dapet yang setengah gepok dengan banyak baling2 yang utuh. Tapi jangan coba coba emut jari kalau habis main dengan si Johar ini, sepet..pait rasanya. Kembali ke Pasar Johar, dulu sebelum dibangunnya Pasar Johar lokasi pasar ini hanya berupa pedagang pedagang yang berkumpul di bawah Pohon Johar. Asyik ya kayaknya membayangkan logat medok semarangan dengan biji mahoni rontok diterpa semilir angin (sebentar lagi Jet Li keluar deh)

Lucu ya, menarik bagaimana sebuah pohon membentuk ruang aktifitas. Satu orang berteduh, satu orang berteduh, dua orang berteduh. Dua orang saling sapa, dua orang saling tanya. Ruang memang tak perlu dinding, pintu atau jendela.

Jadi teringat berbagai pasar lainnya yang dinamai dari nama pohon. Di Bandung Ada Pasar Kiara Condong. Pohon Kiara tuh tajuknya bulat lebat warna daunnya terang. Biasanya kalo di Bandung serinng dipake buat penghijauan di area parkir kantor pemerintahan. Mungkin dulunya di daerah situ ada pohon Kiara yang mulai condong/miring. Ada juga pasar Caringin (waringin, beringin,bayan,gondang) pohon yang jadi lambang GOlongan Karya. Ada juga pasar Kebon Kelapa, yang sampe sekarang tak terlihat satu batangpun pohon Kelapa di sana, kalo penjual es Kelapa muda sih banyak.

Itu baru di Bandung..masih banyak yang lainnya. Sayangnya berbagai tempat bernama pohon pohon ini sudah tak terlihat pohonnya tinggal namanya.

Kalo mendengar nama Kemang, yang terbayang adalah kafe kafe tempat nongkrong. Kemang nama pohon sejenis mangga hutan berdaging buah putih bahkan saat matangpun, dan sedikit berserat (Mangifera caesia) di Bali lebih lazim disebut pohon Wani.

Banyak sekali ya nama tempat yang dinamai dengan nama pohon.Di bawah pohon kita berkumpul. Ada yang mau nambahin lagi..silakan, ditunggu di bawah pohon.



Selasa, Juni 05, 2007

Thomas Karsten kakinya menapak di tanah

Pesawat hari itu dijadwalkan terbang jam dua siang dari bandara cengkareng ke denpasar, Pak Mul hari itu nyupir 2 jam lewat sudah sampai lagi di kantor Bapak di Bidakara. Sambil mengisi waktu ngobrol ngobrol dengan fifi yang lagi sibuk dengan marketing lap kulit pembersih lensanya.

Di sudut ruangan majalah-majalah baru menggoda untuk dibongkar, ada beberapa majalah tempo, gatra, beberapa majalah desain tapi sayangnya ngga ada tabloid Nova, Bintang, dan majalah gosip lainnya. padahal waktu yang nanggung gini lebih enak buat bacatopik yang ngga terlalu serius.

Akhirya saya pilih Tempo, kajiannya biasanya lebih dalam mengupas topik dan ngga se-populis gatra. Setelah bolah balik baca terjebaklah di tulisan tentang Thomas Karsten. Kalau suka arsitektur indis pasti tau Pak Londo yang satu ini. Disana diceritakan Thomas Karsten sebagai Londo yang berbeda dengan para pejabat kolonial lainnya. Gosipnya Pak Londo ini juga termasuk menentang ide kolonialisme, ngga suka dugem bareng sosialita Londo lainnya dan beristrikan orang Indonesia. Thomas Karsten memimpikan suatu saat bisa menjadi orang Indonesia dan mati di Indonesia.


Sialnya impian Thomas Karsten terwujud, mati di Indonesia. Dalam camp tahanan Jepang di Cimahi. Kalau saja orang Jepang tahu aset yang ditawannya saat itu.

Thomas Karsten termasuk pionir urban desain di Indonesia (Hindia Belanda)'cenah' saat itu. Jadi teringat saat mudik lebaran kemarin. Kita sempat dioleh olehi Kalender Bekas bergambar Arsitektur kota Semarang, oleh Om Wawan & Tante Nani yang kebetulan kerja di Balai Arsip Semarang. Wow...andai saja tahu dari beberapa hari sebelumnya kalo Om Wawan kerja di Bale Arsip Semarang, pasti perbincangan selama mudik Lebaran lalu selama di Klaten lebih seru.

Dalam perjalanan sebelum ke Bandung kita sempat mampir ke Semarang, dan sempat dipandu city tour oleh Om Wawan, yang paham betul sejarah Semarang. Om Wawan ini bukan lulusan sekolah arsitektur tapi dari sejarah,walaupun begitu dia bisa menjelaskan dengan baik mana saja peninggaan Karsten.

Hampir semua bangunan menarik yang kami tunjuk saat Semarang City Tour ini peninggalan Karsten. Gila...sebanyak itukah??? Jawaban singkatnya Karsten seorang Urban Desainer, beliau tidak merancang bangunan tapi kawasan. Bisa dimengerti kan kalo daerah kekuasannya begitu luas. Kalau kita ke Semarang bisa dibedakan daerah mana mana saja yang sempat dirancang Karsten dan daerah mana yang terjadi karena kecelakaan pertumbuhan kota yang tidak terkendali. Naik turunnya semarang dari Bukit bukit kecilsampai ke Kota Lama yang terletak di Tepi laut memang terlihat dirancang salah satu buah kerutan jidat Thomas Karsten.

Yang unik dari Thomas Karsten beliau tidak saja membidani Semarang, tapi banyak kota kota Besar di Indonesia yang mulai tumbuh saat itu Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun Cirebon, Meester (Jatinegara), Yogya, Surakarta, dan Purwokerto. Beliau juga bukan seorang pengkhayal ala urban desainer perancang The World, atau Palm Island di Dubai, Uni Emirat Arab. Jauh sekali dari tipe hedonis megalomania. Kakinya menapak di tanah, masih teringat artikel di malajah Tempo saat ia merancang Pasar Johar Semarang. Konon Karsten tidak sibuk di belakang meja, tapi dia turun langsung mengamati pola perilaku orang di pasar itu. Hal yang semestinya dilakukan banyak arsitek sebelum mulai merancang, sebelum mulai memaksakan banyak ide ide baru yang mungkin tidak sesuai dan malah tidak cocok. Salah satu ide jenius Pak Thomas Karsten ini adalah dengan menempatkan bagian daging dan ikan ikan di lantai dua, yang konon dulu banyak diprotes para pedagang. Dari pengamatannya menurut Karsten Lalat tidak bisa terbang tinggi, sampai ke lantai dua. Mengamati lalat, hal yang tidak banyak dilakukan arsitek.

Pasar Johar juga menjadi pasar tradisional dengan pencahayaan alami yang baik di tangannya. Pasar Johar (1933) dengan struktur kolom cendawan yang Oleh Frank Lloyd Wright pada karyanya Johnson Waz Building (1936), perhatikan taunnya. Di bagian Drop of untuk kuli kuli barang tidak luput dari pengamatan Karsten. Karsten membuat peninggian lanta yang membuat para Kuli angkut mudah untuk mengangkut barang ke pundak. Kaki Thomas Karsten memang menapak di tanah.

"Pergi sekarang?" Tiba tiba Pak Mul nanya?
"O iya Boleh, daripada ketinggalan Pesawat." Majalah Tempo itupun kubalik & diletakan di rak IKEA tempatnya semula, sial...majalah Baru nih ngga enak kalo dibawa...

Di Bandara menyempatkan diri melihat lihat counter malajah...Wah sayang yang ada hanya Gatra, dan tabloid gosip.

Sampe akhirnya hari ini dikejutkan e-mail tentang petisi menolak pembongkaran Pasar Johar Semarang. Shit....!!! mau dihancurkan....? bodoh apa goblok...semoga cuman lelucon...sayangnya bukan lelucon, semoga kelak hanya jadi lelucon basi. Bukan komedi satire yang sudah terlalu banyak di negeri ini.
-simpri

baca juga

Pasar Johar, bangunan tropis yang terancam, di arsitekturindis.com
Kiprah Herman Thomas Karsten di Indonesia, di aritekturindis.com
Pasar Johar Dipertahankan Jadi Pasar Tradisional , di KOMPAS
Pembongkaran Johar Tak Sejalan SPA,di Suara Merdeka
Pedagang Tegaskan Penolakan , di Suara Merdeka
Bangunan Utama Pasar Tetap, di radar semarang
Lihat foto pasar Johar disini



Kamis, Maret 01, 2007

Rangkiang Pagaruyuang


foto:m'pri

Masih mengenang terbakarnya istana pagaruyng atau istano pagaruyuang dua hari lalu jadi teringat dialog pendek sewaktu kami sekeluarga besar berkesempatan melawat ke sini Desember silam.
(Pake banyak serapan melayu melawat dan silam biar lebih gaya & kontekstual)..gini kutipan dialog kita, saat terpesona melihat rangkiang, lumbung padi pada arsitektur tradisional Sumatera barat.

Uda apa bahasa padangnya rangkiang anti tikus? tanyaku pada Kakak Ipar (seperti perguruan silat ya yang menyapa dengan sebutan kakak Ipar, Adik Tiri, Kakak seperguruan)

Rangkiang anti mancia' (dibaca ngerem)ternyata tikus bahasa padangnya bukan takuy sperti yang kuduga, mancia' dari kata mencit melayu, kata yang sudah jarang kita dengar ya. Mencit lebih berkesan imut, lucu, menggemaskan beda dari tikus yang hitam jorok tongos.

Kembali ke rangkiang...

Kenapa rangkiang anti tikus?

Salah satu keistimewaan seperti yang disebutkan dimuka, rangkiang ini anti tikus. Silakan bayangkan diri anda menjadi mancia' dan mulai berencana membobol rangkiang. 4 Kolom besar yang cukup besar diameternya ini dan diserut licin,cukup tinggi membuat si tikus mustahil untuk naik ke rangkiang. Kecuali kita membayangkan adegan tikus kecil yang saling mendukung seperti adegan panjat pinang mau masuk ke rangkiang.

Satu hal lagi yang membuat semakin repot si tikus untuk masuk yaitu tidak adanya tangga untuk amsuk ke rangkiang, walaupun pintu rangkiang terbuka lebar posisi pintu yang letaknya diatas membuat siapapun kesulitan untuk masuk ke rangkiang.
Bagaimana dengan manusia? Untuk masuk ke rangkiang kita perlu tangga bambu (taraje dalam bahas sunda)yang dibawa kesana untuk masuk ke pintu di atas lalu baru turun ke atas lumbung. Kebayang kan? kalau ngga dalam acara penting atau keadaan kepepet-pepet banget males juga buat ambil beras di rangkiang. Sepintas ada pesan mendalam dari kearifan budaya tradisional kita. Oh.ya selain rangkiang ini di dapur masih ada kotak beras yang lumayan besar.

Jadi...wah hebatnya ada plan A plan B dong, rasanya mustahil ya ada paceklik dengan tipologi arsitektur yang berlumbung seperti ini. Untuk sekedar catatan, lumbung hampir ada di setiap arsitektur tradisional Nusantara, sekedar yang saya tahu di Jawa Barat dikenal leuit, di arsitektur Bali juga lumbung jadi elemen penting. Lainnya, wah saya musti baca-baca lagi & jalan-jalan lebih banyak lagi.

Kenapa ya bentuknya membesar ke atas gini, Kali ini pertanyaan Kakak Ipar perempuan, yang masih satu garis keturunan dengan istri saya. Sambil kami semua masih melongo melihat lumbung di istana pagaruyung ini yang gede banget.

Kita pun mulai menduga duga...
Orang padang kan pintar dan hemat mungkin supaya hitungan KDBnya kecil..KDB koefisien dasar bangunan, yang biasanya digunakan untuk menghitung daerah boleh terbangun atau tidak dalam tata kota modern.

Mungkin juga miring jadi air tidak menggenang, dan tidak tampias hujan ke bagian gedek/bilik...dugaan ini masuk akal juga

Mungkin biar tekanan gaya yang terdistribusi ke dalam tanah memusat di satu titik di abwah mengingat beban yang dipikul rangkiang sangat berat/berisi beras, sehingga si rangkaing lebih kokoh.

Mungkin juga biar tekanan ini berefek bandul, seperti teknologi struktur banguan tinggi dengan pemberat di atas puncak tower (biasanya sekaligus water-tank, ME dan lain2)

Dua pendapat tearkhir ini perlu validasi dari ahlinya/struktur..saya masih menduga duga..

Sambil terus melihat foto..saya bergumam..
pc..?
mungkin pc?
perspective correction, seperti yang digunakan bangunan di roma.
kali difoto dengan lensa sangat wide, bangunann yang membesar keatas ini seolah lurus..

ini foto yang diambil dari dekat dengan lensa yang cukup wide


foto:m'pri

Apapun jawabannya, minumannya? (halah...fokus m'pri fokus...akhir tulisan kok belok lagi).

Apapun jawabannya istana ini berikut rangkiang sudah terbakar..




Rabu, Februari 28, 2007

Istana pagaruyung terbakar

Istana pagaruyung terbakar...!!! habis.



foto Desember 2006,m'pri

Mendengar berita ini dari An-tevepagi ini puku 06.50an
WITA pagi ini. Kaget...!
Baru saja Akhir Desember 2006 tahun lalu kami
bertandang ke istana pagaruyung ini.
Menurut wawancara masih dengan background terbakarnya
istana pagaruyung, terbakarnya karena sambaran petir.
Miris sekali melihatnya kobaran api di membakar
bangunan yang merupakan replika dari istana
Pagarruyung yang asli yang merupakan replika dari
istana sebelumnya yang juga terbakar.

Jauh hari saya mengenal istana pagaruyung ini, ketika
SD walalaupun hanya dalam sekeping uang receh seratus
perak. Dan baru berkesempatan melihatnya akhir tahun
lalu, kunjungan ahir tahun lalu itu membuat saya yang
katanya berlatar belakang arsitek mendadak merasa
bodoh, tak terbayangkan istana berstruktur kayu itu
begitu besar dan megahnya. Apalagi dengan struktur
kayu yang miring miring distortif sensional.

Sedih melihatnya..

Saya nyalakan komputer dan buka foto foto istana
pagaruyung, Dilihat sekilas dari foto saya tidak
melihat adanya penangkal petir di kesebelas ujung
gonjong atap pagaruyung ini. Tanpa bermaksud mencari
kambing hitam dibalik ini semua, apakah memang tidak
ada penangkal petir disana, atau disamarkan dengan
sempurna pada setiap ujung gonjong atap? saya kurang
tahu.

Kita sudah kehilangan satu aset arsitektur yang unik,
untuk kedua kalinya. Rasanya seperti kehilangan teman
yang baru sekali bertemu tapi sangat berkesan.

Jadi teringat slide show selasa sore di jurusan
arsitektur ITB tantang kota Boston, Pa Uli pangilan
Pak Basauli Umar mancing pertanyaan, profesi apakah
yang paling dicita-citakan anak di Boston? jawabannya
bukan arsitek, lawyer, dokter tapi katanya pemadam
kebakaran, karena profesi ini begitu dihargai oleh
warga Boston, yang didalamnya banyak bangunan cagar
budaya yang harus dilindungi salah satunya dari
kebakaran.

m'pri

Foto desember kemarin di multiplynya ikaku
Foto sewaktu kebakaran di west sumatra.com
Istana pagaruyung terbakar di Media Indonesia
Istana pagaruyung terbakar, di Antara
Istana pagaruyung terbakar, di detik.com
Lihat juga fotonya di west sumatera.com
Foto-foto istana pagaruyung di fotografer.net
Istana pagaruyung di baledesain.com
Istana pagaruying sekarang replika dari istana asli yang terbakar pada 1806, artikel di kompas




Minggu, September 24, 2006

Masjid beratap langit

Tulisan ini saya dedikasikan buat mas Bambang Setiabudhi yang terus konsisten menulis, meneliti tentang arsitektur Islam.

Masjid ini sayangnya bukan masjid sungguhan, ini hanya replika di Bahrain Museum. Ada sebuah zona replika kota tua di Bahrain museum ini terdiri dari replika sejak dari jaman kebudayaan pra-Islam, periode Dilmun (yang disejarah SMP sejaman dengan periode mesopotamia di Irak). Namun semoga kereplikaan ini tidak mengurangi bobot tulisan ini. Kalau bukan replika mungkin agak sulit atau bahkan tidak ada lagi masjid yang beratapkan langit seperti ini selain di masjidil haram pada bagian area thawaf.

Foto dari arah shaf pertama ke lapangan tengah/masjid


Bahrain dan peradaban Islam.


Bahrain sebagai daerah yang cukup dekat dengan daratan Saudi Arabia (sekarang) termasuk daerah daerah awal penyebaran islam melalui Teluk Persia. Konon Islam sudah sampai Bahrain dalam 6 tahun penyebaran Islam. Saat itu mina Al Manamah, Pelabuhan Manamah yang sekarang dikenal Sebagai Manama sudahmenjadi daerah transit yag cukup ramai. Sangat Masuk Akal, mengingat posisinya yang dekat dengan Saudi Arabia yang sekarang sudah terhubung dengan jembatan yang bisa ditempuh dalam waktu cukup singkat. Tidak diketahui persis apakah lokasi pelabuhan Manama saat jaman Penyebaran islam awal berada di pusat kota manama sekarang atau bukan. Peninggalan yang masih asli banyak terdapat di daerah Muharraq sementara di manama sendiri yang lebih dominan dengan pola grid mengingat negeri ini pernah jadi jajahan Inggris namun tetap berpolakan pola souq/ pasar yang rapat dengan lorong lorong dengan ketinggian 2 lantai.

Foto gerbang masjid


Bentuknya sederhana sekali hanya berupa lapangan dengan pintu dan pagar sebuah menara dan sebuah ruang menyerupai selasar pada shaf pertama. Foto disamping ini diambil dari arah shaf pertama ke samping. Hanya satu dua shaf saja, Jadi teringat karya masjid Andra Matin dalam sebuah pameran AMI di jurusan arsitektur tahun 1999, dengan satu shaf dan halaman belakang berupa taman/ruang terbuka yang fungsional. Masjid dekat tempat flat saya tinggal berpedoman pada sebuah hadist yang menjama taqdim (menarik kedepan) shalat Isya sesudah shalat magrib bila hujan tiba. Melihat replika masjid ini mengingat kondisi saat itu sayapung manggut manggut
sendiri.

Kalau mengingat Islam masuk Bahrain hanya perlu waktu 6 tahun saja, asumsi saya (boleh dibantah)tipologi masjid saat jaman Rasulullah pun tidak jauh dari berbeda dengan replika ini. Yang membuat kagum dengan masjid beratap langit ini Islam bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Agak Ironis dengan kondisi masjid saat ini, yang megah namun kerap menjadi simbol kemegahan kota/penguasa yang sepi aktifitas. Robohkan atapnya? jangan dong ramaikan saja aktifitasnya.
m'pri
.